Asyiknya Bedah Buku “Menemukan Berbagai Keajaiban dalam Hidup” Dalam Hari Kunjung Perpustakaan

Kemarin, tanggal 18 Oktober 2016 telah dilaksanakan sebuah kegiatan yang bagi saya sangat luar biasa.  Bedah buku Berbagai Keajaiban dalam Hidup yang ditulis oleh Mas Arul Chandrana di Aula Cendekia Perpustakaan Daerah Lamongan sungguh berkesan. Kegiatan ini merupakan bagian dalam rangka hari kunjungan ke perpustakaan serta penyerahan hadiah pemenang lomba perpustakaan sekolah tingkat SLTP dan SLTA se-kabupaten Lamongan.

Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala perpustakan dan utusan sekolah SLTP/SLTA baik negeri maupun swasta, pengurus Forum Lingkar Pena Lamongan serta beberapa mahasiswa di Lamongan.
Sebelum  bedah buku dilaksanakan, terlebih dahulu diisi oleh laporan panitia penyelenggara lomba perpustakaan dan diikuti sambutan dari Kepala BPAD Lamongan yaitu Bapak Hurip Tjahjono. Bapak Yuhronur Efendi Sekretaris Daerah Lamongan yang menurut saya mirip dengan teman sekantor saya  turut serta hadir dalam kegiatan ini.
Dok. Pribadi (suasana kegiatan)

Bapak Sekda menyerahkan trophi juara dengan Bapak kepala BPAD

 Penyerahan trophi juara langsung diserahkan langsung oleh Sekda Lamongan bapak Yuhronur Efendi sekaligus beliau juga membuka bedah buku Menemukan Berbagai Keajaiban dalam Hidup. Ini acara yang paling saya tunggu-tunggu. Kenapa? Selain karena penasaran dengan apa saja keajaiban yang dituangkan dalam buku mas Arul Chandrana, saya dinobatkan sebagai moderator dalam acara bedah buku ini. Mbak Erna teman FLP Lamongan memberi kesempatan kepada saya untuk tampil sebagai moderator karena ada kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Ini bukan pengalaman pertama tampil di depan orang banyak tapi ini pertama tampil di depan para kepala perpustakaan serta guru-guru se-Kabupaten Lamongan. Rasa gugup jelas terpancar di wajah saya saat itu apalagi bicaranya di atas mimbar dengan mikrofon jauh dari jangkauan saya. Di sini saya sadar kalau saya pendek. Hiks 😭 Dengan percaya diri yang sudah mencapai klimaks, saya membacakan profil mas Arul Chandrana. Mas Arul Chandrana adalah seorang yang humoris tapi terkadang terlihat angker saat wajahnya serius. Lahir di Bawean dan sekarang tinggal di Paciran Lamongan ini seorang penulis, pembaca sekaligus guru. Saat ini tergabung dalam Forum Lingkar Pena Lamongan. Karya pertamanya Pemburu Rembulan setelah itu bermunculan karya-karya lainnya yaitu Bukan Pangeran Kodok, Berbagai Keajaiban dalam Hidup yang merupakan buku yang dibedah dalam kegiatan ini, Jangan Tertawa pada Malam Hari, Ramadhan in Love, Sang Penakluk Kutukan dan yang baru-baru ini terbit adalah Kapten Bhukal novel dengan tokoh utama seekor simpanse dan novel ini dilahirkan hanya dengan waktu enam hari. Luar biasaa……

Gaya mas Arul saat bercerita
Dengan tubuh berbalut baju batik merah, mas Arul Chandrana tampil dengan penuh ceria tapi agak terkesan tua karena penampilannya. Hehe.. Cerita-cerita yang dibawakan di depan para peserta bedah buku membuat mereka terkesima. Mas Arul Chandrana menceritakan tentang masa kecilnya saat SD yang mempunyai seorang guru bernama Pak Muslihin. Pak Muslihin adalah guru ajaib karena mengajar beberapa mata pelajaran yang sama sekali tak mempunyai hubungan yaitu Qur’an Hadits, Bahasa Indonesia dan matematika. Di pelajaran Qur’an Hadits, mas Arul Chandrana dan teman-temannya sangat semangat belajar, di jam Bahasa Indonesia antusias tapi tiba giliran  pelajaran matematika dianggap sebagai momok. Lalu, suatu hari mas Arul mengajak teman-temannya untuk berdoa dengan membaca seluruh ayat yang ada di buku Qur’an Hadist meminta agar Pak Muslihin sakit dan tidak bisa masuk karena saat itu jam pelajaran matematika. Dan bebrapa menit kemudian, TU sekolah mengabarkan bahwa Pak Muslihan sakit. Mereka sangat senang dan mas Arul Chandrana menganggap itu merupakan sebuah keajaiban. Tapi dihari-hari berikutnya, doa tersebut sudah tidak manjur lagi.
Selain bercerita tentang Pak Muslihan, Mas Arul juga menceritakan tentang muridnya si Minan. Si Minan yang sering dibully teman-temannya dan dianggap bodoh. Tapi suatu ketika, saat Mas Arul Chandrana menyuruh murid-muridnya untuk membagi kelompok drama, tidak ada yang mau satu kelompok dengan si Minan. Akhirnya dia diterima di kelompok yang anggotanya anak perempuan semua. Si Minan berperan sebagai orang jahat. Ternyata di luar dugaan, acting si Minan benar-benar totalitas. Si Minan mampu berperan dengan baik dari teman-temannya. Cerita ini membuat semua menyadari bahwa setiap manusia diciptakan dengan peran dan kemampuannya masing-masing. Mas Arul memberi contoh jika seekor ikan, monyet, anjing jika disuruh memanjat pohon pasti si ikan akan terlihat sangat bodoh, begitupun sebaliknya jika ikan, monyet dan anjing disuruh berenang maka tampaklah monyet yang paling bodoh karena tidak bisa berenang.
Setelah Mas Arul selesai menceritakan kisah-kisah ajaib yang ditulis dalam buku Menemukan Berbagai Keajaiban dalam Hidup dan mengupas tentang keajaiban, sesi Tanya jawab pun dibuka. Nah, ini saya kembali berperan untuk menjadi moderator. Mungkin karena terbuai dengan cerita-cerita mas Arul atau karena jam sudah menunjuk angka makan siang, tidak ada satu pun yang angkat tangan untuk bertanya. Tapi setelah saya kasih bocoran bahwa dapat buku dari Mas Arul untuk setiap pertanyaan, maka semua berebut untuk bertanya. Ternyata banyak sekali pertanyaan yang diajukan. Dan kami hanya membuka lima pertanyaan. Mereka bertanya tentang bagaimana tips agar tidak jenuh membaca, menulis dengan waktu yang sangat singkat dan berbagai pertanyaan lainnya.
Acara selesai dan ditutup oleh pembawa acara dan ternyata tidak sampai di situ saja, para peserta memburu mas Arul Chandrana untuk minta tanda tangan dan foto bersama. Wahh….Mas Arul jadi aktris dalam satu hari…
Tak lupa saya dan mb Triana pun ikut berfoto dengan sang idola 😀😀

Penyerahan hadiah buku

Mas Arul sibuk tanda tangan

Mbk Triana,  saya dan mas Arul Chandrana

Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan penuh manfaat.

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja