MENGEJAR SENJA DI KERATON RATU BOKO



Dok. Pribadi
Ini nih gara-gara melihat postingan foto-foto senja yang tercipta di Keraton Ratu Boko, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk mengujungi Keraton Ratu Boko awal bulan Februari kemarin. Kebetulan waktu itu kami sedang jalan-jalan ke Jogja dan kesempatan ini gak kami sia-siakan. Sudah beberapa kali sih ke Jogja tapi aku ataupun suami belum pernah pergi ke Keraton Ratu Boko, Keraton yang terkenal dengan misteri di balik kemegahannya. Apakah aku dan suami sampai pada tujuanku? Apa kami menemukan senja di balik Keraton Ratu Boko? Atau ada hal lain yang kami temui? Yuk ikuti cerita kami mengejar senja di Keraton Ratu Boko.
Sejak pagi, udara sudah terasa dingin. Aku sudah gelisah karena saat keluar dari hotel, di atas mendung sedang bergelayut manja memayungi kota Yogyakarta. Tapi aku dan suami tetap nekat pergi ke tujuan kami yaitu Hutan Pinus dan Keraton Ratu Boko meski kami sama sekali tidak tahu letak wisata tersebut. Yang akan aku ceritakan di sini yaitu tentang Keraton Ratu Boko jadi untuk Hutan Pinus ceritanya ada di postingan ini.
Sebenarnya untuk menuju arah Keraton Ratu Boko cukup mudah kalau dari arah kota Jogja. Tapi karena kami ke Hutan Pinus dulu jadi rutenya malah jauh itupun hanya berbekal google map dan nyasar berkali-kali. Tapi untuk kalian yang ingin ke sana dari arah kota Jogja bisa melalui Jalan Solo, ambil lurus  terus menuju arah Candi Prambanan. Dan setelah sampai di pertigaan Pasar Prambanan ambil ke kanan sejauh kurang lebih 3 km ke arah Piyungan. Ikuti saja jalan utama sampai nanti ada papan petunjuk arah ke Keraton atau Keraton Ratu Boko. Jalannya memang menanjak karena mengingat lokasi Keraton Ratu Boko yang di atas bukit. Jadi harus hati-hati saat berkendara.
Oh ya, kabarnya untuk menikmati senja di Keraton Ratu Boko tiketnya berbeda. Jadi ada dua kategori, reguler dan paket. Kalau regular hanya Rp 25.000 per orang. Murah kan ya? Tapi itu hanya sampai jam tiga sore. Di atas jam tersebut naik menjadi Rp 100.000 jadi lebih mahal. Untuk menghemat pengeluaran, aku dan suami tentu memilih yang kategori pertama yang hanya Rp 25.000. Berangkat dari hutan Pinus jam 1 siang. Pokoknya sebelum jam tiga harus sudah di Keraton Ratu Boko meskipun nanti menunggu lama untuk senja, setidaknya kami sudah ada di dalam sebelum tiket naik. Hehe....
Tapi sialnya pas menuju ke Keraton Ratu Boko, langit menurunkan kristal-kristalnya. Butiran hujan semakin menderas dan kami memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu. Wah muka sedih langsung terbentuk dimukaku. Gagal menikmati senja di Keraton Ratu Boko. Tapi karena sudah dekat dengan tempat tujuan, akhirnya kami tetap pergi ke sana meski gerimis masih saja turun. Sesampainya di Keraton Ratu Boko, kami menuju loket karcis. Saat masuk ke Keraton, di sebelah kiri ada tulisan Keraton Ratu Boko.
Keraton atau Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan yang dibangun sejak masa pemerintahan Rakai Panangkaran, yang merupakan keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang terletak di 196 meter dari atas permukaan laut ini menjadi empat bagian, tengah, barat, tenggara dan timur. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Ratu Boko adalah ayah dari Roro Jograng. Sampai sekarang, misteri runtuhnya Istana Ratu Boko itu masih banyak menyimpan misteri yang belum sepenuhnya terkuak.
Dok. Pribadi (Gapura Ratu Boko)
Aku dan suami masuk dari gerbang Istana disambut dengan dua gapura tinggi. Yang mana gapura pertama memiliki 3 pintu sedangkan gapura kedua memiliki 5 pintu. Suasana saat itu sangat dingin dan gerimis telah reda. Kami langsung membidikkan kamera tepat di depan gapura. Meskipun senja tak akan muncul karena tertutup mendung, kami tidak sepenuhnya kecewa karena pemandangan di Istana Ratu Boko selepas hujan juga tak kalah indah dan romantis. Masuk ke dalam istana, sekitar 45 meter ada candi dengan batu putih dan tak jauh dari situ ada Candi Pembakaran yang berbentuk bujur sangkar. Karena hawa yang dingin, kami merasa sangat lapar dan mencari warung yang jual makanan. Kami menuju arah tenggara untuk beli makanan, tapi sebelumnya kami melihat sebuah sumur yang konon katanya bernama Amera Mantana. Air suci yang diberikan mantra. Air tersebut digunakan orang-orang Hindu untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Aku dan suami menuju atas bukit yang namanya bukit panorama. Dari sini bisa melihat Candi Prambanan yang sungguh menawan, Tapi sayang waktu kami naik ke atas, kabut sedang menutupinya jadi tidak terlihat jelas. Kami memutuskan untuk membeli mie instan pada seorang nenek yang jualan di area tersebut. Nenek tersebut memperlihatkan arca Dewa Khrisna yang tangannya patah sebelah. Patung tersebut diletakan tepat di area panorama.

Arca di Panorama (Dok. Pribadi)
Kami mengira kalau Keraton Ratu Boko seperti Candi Prambanan yang tidak terlalu luas. Yang unik dari Keraton ini yaitu ada bangunan seperti rumah-rumah meski hanya tinggal batur-baturnya saja. Pokoknya waktu masuk ke dalam Keraton, imajinasiku sudah mulai liar. Membayangkan bagaimana dulu Keraton itu berdiri megah, bagaimana para pengawal lalu lalang di dalamnya, putri-putri, raja serta para punggawanya. Di sana terdapat Paseban,  yaitu ruang tunggu bagi tamu yang akan menemui raja pada zaman dulu. Di sebelah timur terdapat Goa. Yang dinamakan Goa Lanang dan Goa Wadon. Menurut keterangan yang aku baca di dekat goa, bahwa goa tersebut dinamakan Goa Lanang dan Goa Wadon karena terdapat semacam relief yang menggambarkan alat kelamin wanita (lambang Yoni) di atas pintunya. Dan dilengkapi dengan linggia yaitu simbol alat kelamin laki-laki yang merupakan salah satu dewa Siwa dalam agama Hindu. Goa ini dipakai untuk bersemedi. Tak jauh dari sana ada kolam yang dulu dipakai para putri raja untuk mandi. Juga Keputren tempat tinggal para putri. Sebenarnya kami masih ingin berkeliling di Keraton yang mempunyai luas 160.898 m2 itu. Tapi karena hujan turun secara tiba-tiba dan semakin deras, kami memutuskan berteduh di Pendopo Keraton. Kabut mulai menyelimuti hingga suasana semakin dingin dan gelap. Meskipun hujan, tapi tetap saja masih ada pengunjung yang rela hujan-hujan demi melihat satu persatu bukti sejarah runtuhnya Keraton ratu Boko.

Paseban (Dok. Pribadi)


Pendopo (DOk. Pribadi)


Kolam (Dok. Pribadi)

Goa (Dok. Pribadi)
Setelah hujan mulai reda, aku dan suami langsung bergegas untuk kembali ke hotel karena sudah menunjukan jam 5 sore. Kami mampir di masjid dekat keraton tersebut untuk sholat sebelum memulai perjalanan ke hotel. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan juga sangat menyenangkan. Jalan-jalan sambil belajar tentang sejarah di Indonesia sungguh pengalaman yang mengesankan apalagi ditemani sang suami. Hehe... Walaupun kami tidak mendapatkan senja, tapi kami disuguhi pemandangan yang lebih menakjubkan. Kabut dan gerimis di Keraton Ratu Boko itu sangat eksotis dan romantis.
Oke, cukup sudah jalan-jalan kali ini. Semoga lain waktu bisa kembali ke Ratu Boko dan mendapatkan sunsetnya. Tunggu postingan pengalaman kami selanjutnya ya.....😊😊

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja