Cintamu yang sederhana

Sumber: Google

“Cinta itu terlalu sederhana. Terkadang, kata-kata menjadi terlalu rumit untuk mengungkapkannya” (Sefryana Khairil, Rindu)

***
 “Kalian tahu, Bu Rika sampai mau minum obat serangga gara-gara ditinggal sama Pak Teguh. Kasihan ya Bu Rika, sudah satu tahun menjalin hubungan dengan Pak Teguh tapi ditinggal begitu saja hanya karena Pak Teguh ingin kembali ke mantan istrinya.” Aini panjang lebar bercerita.
“Itu namanya pelampiasan cinta.” Jesika ikut menimpali.
Celotehan Aini bersama teman-teman kantor tadi siang tiba-tiba mengusik tidur malamku. Apakah benar semua itu karena Pak Teguh hanya melampiaskan cintanya ke Bu Rika semenjak Pak Teguh cerai dengan istrinya? Bukan cinta sesungguhnya tapi hanya pelampiasan?
Aku memang tidak ikut nimbrung saat Aini dan lainnya bicara soal Bu Rika, Manager Personalia kami. Mas Bayu suamiku selalu mewanti-wanti agar aku tidak ikut-ikutan bergosip membicarakan orang lain. Tapi pembicaraan mereka terdengar jelas di telinga karena mereka bergerombol tepat di belakangku.
Aku membolak-balikan badan di atas ranjang. Mataku tak bisa terpejam. Ku pandangi Mas Bayu yang sudah terlelap di sisiku. Dadanya naik turun mengikuti irama detak jantungnya, wajahnya ku tatap penuh cinta dan.…luka.
Dua hari yang lalu aku menemukan kejanggalan yang tersorot dari mata Mas Bayu. Sebagai istri aku merasakan ada yang tidak beres dengan suamiku. Sakitkah dia? Atau ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan dariku? Entah setan apa yang merasuki diriku hingga aku berani membuka e-mail milik Mas Bayu. Kebetulan e-mail tersebut tidak di logout dari ponselnya.  Di inbox atau sent item tidak ada yang patut dicurigai tapi dalam draft e-mailnya tertulis sebuah kalimat-kalimat yang membuat aku lemas seketika. Lidah dan tubuhku kaku bahkan hatiku. Sebuah kenyataan yang terlalu pahit untuk ku kecap, terlalu perih untuk ku genggam dan terlalu buruk untuk ku lihat. Hatiku tak ada rasa, perih pun sudah melebur bersama semua cintaku. Sebuah cinta yang begitu tulus padanya ternyata tak ada artinya sama sekali buatnya, cintaku tak berarti apa-apa. Setelah hampir satu tahun pernikahan kami, aku baru menyadarinya bahwa dia menikahiku karena sebuah ego. Bukan sebuah cinta yang pernah dia yakinkan padaku dulu saat dia melamarku. Di sana tertulis bahwa dia menginginkan mantan kekasihnya kembali, ingin memulai hidup dari awal dengannya.
Apakah ini yang dinamakan pelampiasan cinta?
***
“Tidak makan, Sayang?” Tanya Mas Bayu lembut saat melihatku hanya memandangi sepiring nasi di depanku.
“Tidak nafsu makan!” Jawabku judes.
Bukan Mas Bayu namanya jika tidak tahu kalau aku sedang marah padanya.
“Mau dibuatkan bubur atau soto ayam? Dijamin kalau Mas yang buat kamu pasti akan ketagihan!” Mas Bayu mencoba membujukku dengan gayanya yang sok melucu.
Aku hanya diam saja dan tak perduli dengan usahanya yang berusaha membujukku agar aku mau makan. Aku menahan tangis yang tak ingin aku perlihatkan di depan Mas Bayu tapi pertahananku jebol, gerimis pun turun di atas pipiku. Mas Bayu segera mendekatiku saat dia melihat air mataku.
“Rani, kamu tidak apa-apa?” Tanyanya ragu. Mas Bayu hendak meraih pundakku tapi aku langsung menghindar. Tatapan matanya penuh tanda tanya.
“Apa Mas pernah mencintaiku?!”
“Rani, kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Jawab Mas. Apa susahnya menjawab sih??” Tanyaku penuh emosi.
“Sayang, kita sudah hampir setahun menikah dan masih kamu tanyakan hal ini?”
“Apa Mas selama ini mencintaiku atau hanya pelampiasan cinta Mas saja? Mas menyesal menikah denganku?!” Intonasi suaraku bertambah naik.
“Aku tak mengerti apa maksud kamu, Rani. Tenanglah, Istighfar. Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” Ucapnya dengan sabar dan berusaha untuk menenangkanku.
Aku tersadar dan segera beristigfar berkali-kali memohon ampun kepada Allah karena tak seharusnya aku berkata keras kepada suamiku.
“Apa benar Mas Bayu masih mencintai Tika kekasih Mas yang dulu?” tanyaku pelan.
“Kamu sudah membacanya, Ran? Ah, aku berusaha melupakannya!” Mas Bayu menjawab dengan menunduk.
Mendengar pengakuan Mas Bayu membuatku semakin terpuruk. Selama ini cintaku terbagi dan aku tak pernah tahu akan hal itu. Memang benar lebih baik tidak tahu daripada tahu tapi menyakitkan.
“Mas ingin kembali dengannya?”
“Sudahlah, Ran. Itu hanya kekhilafan mas saja. Aku tak mungkin kembali dengannya lagi. Aku sudah menikah denganmu. Dan maaf jika hal ini telah menyakitimu.” Mas Bayu bangkit dari duduknya dan memelukku.
“Aku janji ini yang terakhir.”
***
“Masak apa, Sayang?”
Tiba-tiba Mas Bayu memelukku dari belakang.
Aku menggeliat karena kegelian terkena kumisnya yang baru saja dicukur tipis.
“Aku bantuin ya!” Tubuhnya berpindah ke sebelahku dan mulai mengaduk-aduk sayur asam di dalam panci setelah ku masukan garam ke dalamnya.
“Sudah selesai, Mas. Ayo Mas Bayu cepat mandi. Nanti terlambat ke kantor. Buruan, aku juga mau mandi!”
“Mas Bayumu ini meskipun tidak mandi pun tetap banyak wanita-wanita yang suka!” ucapnya sambil senyum-senyum.
“Mas Bayu….!!!” Teriakku sambil berusaha mencubit perutnya tapi Mas Bayu sudah berhasil melarikan diri.
Setiap pagi suasana dapur selalu ramai dengan candaan Mas Bayu. Terkadang Mas Bayu bantuin cuci piring atau menggantikan aku menggoreng ikan jika aku tak berani terciprat minyak panas dalam wajan. Jika aku sibuk masak dan tumpukan baju kotor menggunung, Mas Bayu tak segan-segan untuk mencucinya. Semua dikerjakannya tanpa ada beban dan setelah semua pekerjaan beres baru kami siap-siap untuk berangkat kerja.
***
Pagi ini, pagiku terluka. Bahkan luka kemarin masih basah memerah tapi Mas Bayu sengaja menyayatnya lebih dalam agar darahnya menyembul keluar. Sejak mentari mengintip malu-malu lewat timur langit, aku tak bisa kembali tidur. Mimpi itu seperti nyata adanya. Dalam mimpi itu aku melihat suamiku dengan seseorang wanita.
Aku melakukan rutinitas pagiku seperti biasanya. Bangun tidur lalu mengambil air wudhu untuk menjalankan subuh berjamaah dengan Mas Bayu. Entah kenapa, setelah sholat aku teringat mimpiku semalam. Mimpi yang mengangguku terus. Lima menit saat Mas Bayu keluar untuk lari pagi, ponselnya berdering. Akhirnya kuputuskan untuk ambil ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Hatiku mulai gusar ketika kulihat sebuah nama yang tak asing di ponselnya. Ku buka pesan itu dan tiba-tiba tanpa diundang air mataku mengalir deras. Sebuah pesan dari Tika.
Masih bisa kangen sama aku?
Aku cek pesan terkirimnya dan aku semakin lemas tertunduk. Mas Bayu yang memulai sms duluan.
Aku kangen
Ternyata Mas Bayu masih merindukan kekasih lamanya. Cemburukah aku? Jangan tanyakan itu!! Semua wanita pasti akan cemburu bila suaminya berhubungan lagi dengan kekasih lamanya walau hanya lewat sebuah ponsel kecil. Bukankah seperti syair dangdut masa kini, masa lalu biarlah masa lalu jangan kau ungkit jangan ingatkan aku. Masa lalu biarlah masa lalu, sungguh hatiku tetap cemburu.
Semenjak saat itu, aku mendiamkan mas Bayu. Aku sudah malas bercanda dengannya, malas bicara dengannya. Tapi kewajiban sebagai seorang istri tetap aku jalankan meski semuanya terasa hambar. Benarkah sudah tidak ada lagi cinta di antara kami? Dan aku lebih pendiam dari biasanya. Aku tahu kalau Mas Bayu merasakan perubahanku selama ini.
Mas Bayu tetaplah sama seperti awal kami menikah. Dia tidak berubah meskipun aku mendiamkannya berhari-hari. Dia tetap membantuku melakukan pekerjaan rumah tangga. Mencuci pakaian, membersihkan lantai atau bahkan seringkali malam-malam memburu tikus yang diam-diam masuk ke rumah untuk cari makanan. Dia tetap menggoda dan berusaha membuat aku tertawa, berulang kali minta maaf padaku dan bilang bahwa dia berusaha melupakan mantannya tapi aku tetap pada pendirianku. Luka dalam hatiku terlalu sakit hingga susah untuk diobati.
Malam itu, Aini datang ke rumahku dengan pipi merah lebam dan air mata yang terus mengalir. Dia menceritakan tentang suaminya yang suka memukulnya kalau sedang marah.
“Aku sudah tidak kuat, Rani. Mas Herman selalu kasar terhadapku. Bicaranya pun keras kalau sedang marah-marah. Anak-anak pun takut dibuatnya. Kamu beruntung dapat suami yang baik seperti Bayu. Tak pernah bicara keras atau main tangan sama kamu.”
Aku hanya tersenyum mendengar Aini membanding-bandingkan suaminya dengan Mas Bayu. Aini selalu menganggap bahwa pernikahanku dan Mas Bayu itu selalu diliputi bahagia.
Setelah Aini pamit untuk pulang, aku beranjak ke ruang keluarga dan ku temukan Mas Bayu sedang tertidur pulas di depan tv. Aku ambil selimut dan menyelimutkannya ke tubuh Mas Bayu. Entah sudah beberapa hari aku mengacuhkan suamiku. Ku amati wajah Mas Bayu yang sedang tidur, tiba-tiba aku teringat perkataan Aini mengenai Mas Bayu.
Kamu benar-benar beruntung Rani. Kamu dapat suami yang baik, yang sayang sama kamu dan tidak main tangan seperti Mas Herman.
Tiba-tiba ada perasaan bersalah yang menyusup ke dalam relung hatiku. Aini benar. Aku sungguh sangat beruntung memiliki Mas Bayu.
Satu tahun yang lalu, Mas Bayu memintaku untuk jadi istrinya meski tak pernah terucap kata cinta dari bibirnya. Kami saling mengenal karena kami bekerja satu kantor. Tak ada yang istimewa dari Mas Bayu bagiku tapi entah kenapa banyak wanita-wanita yang tertarik padanya. Mungkin karena dia terlalu akrab dengan mereka.
“Rani, menikahlah denganku!”
“Secepat itu?!” Aku sangat kaget karena hanya beberapa bulan saja aku dan Mas Bayu saling mengenal satu sama lain.
“Hal yang baik tidak boleh ditunda-tunda kan?”
Aku tersenyum,
“Kenapa mas memilihku padahal di sana banyak wanita-wanita yang lebih sempurna dari aku.”
“Karena aku hanya ingin menikah denganmu!”
Dugaanku tentang jawaban Mas Bayu meleset jauh. Padahal aku mengharapkan dia mengatakan ‘karena aku mencintaimu’. Akhirnya aku dan Mas Bayu melangkah ke pelaminan. Semenjak itu, hidupku lebih bahagia karena menikah dengan orang yang diam-diam aku cintai sejak pertama bertemu. Dan Mas Bayu bukanlah seorang suami yang hanya diam melihat istrinya mondar-mandir menyelesaikan pekerjaan rumah. Dengan cekatan dia ikut membantuku meski tak seharusnya dia mengerjakan tugas rumah tangga.
“Biar pekerjaannya cepat selesai dan kamu tidak capek, Sayang!” Selalu itu jawaban Mas Bayu saat aku bertanya kenapa dia mau untuk mencuci piring. Karena setahuku, suami teman-teman sekantorku tidak ada yang mau melakukan hal semacam itu. Dari menikah sampai sekarang, Mas Bayu tak pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Dia tidak pernah bilang I love you. Dia tidak pernah mengajakku ke tempat-tempat romantis untuk sekedar candle light dinner. Memberikanku cincin atau kalung tanda kasih. Sebaliknya Mas Bayu selalu mengajakku ke gunung atau pantai saat kami jalan-jalan. Diam-diam memberikanku jam tangan mungil yang dia letakan di bawah bantal tempat tidur, bahkan tiba-tiba aku menemukan boneka Panda besar di atas motor kerjaku saat hari ulang tahunku. Tidak ada kata-kata special. Terkadang aku merasa iri kepada Aini atau teman kantor lainnya saat mereka menceritakan bagaimana suami mereka setiap hari memberikan kata-kata cinta. Setiap hari? Jangankan setiap hari, selama menikah pun Mas Bayu tak pernah ungkapkan itu.
Masih ku pandangi wajah teduh Mas Bayu yang terlelap. Ku belai rambutnya dan ku kecup keningnya. Dia menggeliat tapi sedetik kemudian kembali tidur. Malam ini aku jatuh cinta lagi pada suamiku. Mas Bayu yang selalu mengurusku dengan telaten saat aku sakit, membantuku membersihkan rumah saat aku sibuk dengan tugas kantorku. Bukankah itu juga dinamakan cinta? Membujukku saat aku tak nafsu makan, bukankah itu cinta? Selalu pulang kerja tepat waktu agar aku tak khawatir dengannya, bukankah itu semua juga cinta? Lalu kenapa aku masih mempertanyakan cinta Mas Bayu? Haruskah cinta diungkapkan dengan kata-kata kalau perbuatan lebih indah dari kata cinta itu sendiri?
“Sayang, kok melamun?” Tiba-tiba Mas Bayu terbangun dan mendapatkan aku melamun di sampingnya.
Aku memandangnya penuh cinta dan aku pun tak kuasa untuk tidak memeluk Mas Bayu.
“Aku mencintaimu, Mas. Selamanya.”
Ku rekatkan pelukan, air mataku tumpah di dada Mas Bayu. Biarlah aku yang mengatakan cinta ini, cukup Mas Bayu mengatakannya lewat perbuatannya yang memanjakanku. Itu sudah cukup bagiku dicintai dengan caranya yang sederhana. Dan untuk masa lalu dengan kekasihnya dulu, aku sudah memaafkannya. Mungkin mas Bayu butuh waktu untuk melupakan kenangan tentang masa lalunya.
Aku memang mencintaimu dengan apa adanya dirimu, tak terkecuali masa lalumu. Tapi bukan berarti aku tak cemburu, Mas.


#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-8

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja