I Have A Dream


 “Kereta jurusan Lamongan Surabaya akan segera diberangkatkan di jalur 1. Para penumpang yang belum mendapatkan tiket, harap membeli ke loket 1.” Suara petugas stasiun terdengar sangat lantang dan berwibawa.
Dingin. Ku masukkan tiket kereta ke dalam saku. Tubuhku sudah menggigil dalam balutan jaket pink.  Angin subuh masih bawa harum surgawi. Dendang kalimat-kalimat al quran yang sangat indah masih sayup-sayup terdengar memenuhi  gendang telinga di setiap ruh anak manusia. Hari masih terlalu dini untuk memulai suatu perjalanan.
Toootttt….…jgjgjgjgjgjg…!!
Akhirnya ular besi itu berjalan bak berlari di antara keriuhan burung pagi. Berdencit-dencit suara rel saat kereta melaju dengan kecepatan yang tak diragukan lagi. Kereta pagi itu pun melaju ke arah timur menyambut sang mentari.
Ku geser dudukku ke dekat jendela. Bayu berhembus membelai wajahku yang dipenuhi rasa kantuk. Di luar masih terlihat gelap. Fajar sepertinya masih enggan menampakan dirinya di ufuk timur. Mataku sudah mulai terlelap tapi tiba-tiba aku urungkan. Ada sesuatu yang mengganjal kedua mataku. Aku melihat sosok gadis dengan ayahnya. Terpancar kebahagiaan di mata bening gadis itu. Gadis itu memakai seragam putih abu-abu lengkap dengan tas ransel di punggungnya. Sedangkan sang ayah kira-kira umurnya 48 tahun. Membawa tas besar, mungkin berisi pakaian. Tak sengaja sudut bibirku yang mungil ini tertarik ke samping sehingga membentuk sebuah senyuman manis. Aku tersenyum sendiri. Mungkin ayah gadis itu sedang mengantarkan anaknya untuk daftar kuliah di Surabaya atau mungkin di kota lain. Tapi senyumku memudar seiring jatuhnya bulir-bulir air mata di pipiku. Aku teringat satu tahun yang lalu, ya saat itu aku pernah berada di posisi gadis itu.

***
“Ayah, pokoknya nanti kalau lulus SMA aku ingin kuliah di Malang atau di Surabaya”
“Di Surabaya saja. Di Malang terlalu jauh, Mah.”
Aku pun menganggukan kepala waktu itu. Aku sangat senang dan mulai membayangkan bagaimana hidup di luar kota sebagai anak kos yang jauh dari orang tua.
Tiba hari kelulusan SMK ku. Aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan Ayah menepati janjinya untuk mengizinkan aku kuliah di Surabaya. Dan selang beberapa minggu, aku langsung kuliah professional di Surabaya. Tapi gelarku nanti bukan sarjana melainkan hanya Ahli Madya. Aku ambil kuliah tersebut karena menurutku peluang kerjanya lebih besar. Dengan menyabet jurusan Sekretaris dan Public Relation, aku yakin akan bisa bekerja menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar. Dengan diantarkan kereta, aku dan ayah ke Surabaya. Waktu itu harga tiketnya hanya dua ribu rupiah. Aku dan ayah tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya jam 7 pagi. Untuk sampai ke kampusku, aku dan ayah harus naik angkot Q jurusan Ngagel. Setengah perjalanan, aku mulai mual dan pusing. Maklum, aku tidak pernah pergi jauh selama ini. Sesampainya di kampusku, aku langsung menyelesaikan administrasi dan pergi untuk cari kos terdekat. Panas mulai menyengat kulit meskipun hari itu masih jam 9 pagi. Aku dan ayah berjalan di tepi jalan yang sudah mulai padat dengan kendaraan. Di samping kiri jalan, ku lihat dua gedung menjulang tinggi dengan cat berwarna merah. Tampak sekali gedung tersebut tak terurus. Mungkin gedung tersebut adalah peninggalan orang zaman dulu yang telah terbengkalai. Dan tak jauh dari gedung itu, ada gedung lagi berwarna putih yang tinggi dan besar seperti tempat perbelanjaan atau mall. Dan keadaannya tak jauh berbeda dengan kedua gedung tadi. Kami melintasi rel kereta yang memanjang dari arah utara ke selatan. Tampak penjaga rel siaga di pos perjagaan. Kami masuk ke gang kecil di sebelah pos perjagaan kereta. Ada seorang bapak separuh baya jualan makanan di depan gang. Kami menghampirinya untuk beli makanan kecil sekaligus untuk bertanya.
“Maaf pak, apa ada kos di daerah sini?” Ayah mulai membuka pembicaraan
 “Coba njenengan tanya ke rumah itu. Pemiliknya namanya bapak Ivan. Dia buka kos-kosan, mungkin masih ada yang kosong.” Bapak separuh baya itu pun menunjuk ke sebuah rumah berpagar di pertigaan gang.
“Iya pak. Kami akan coba ke sana. Matur suwun.”
Setelah membayar makanan yang kami beli, kami berjalan ke arah rumah yang ditujuk bapak tadi. Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan salam, munculah seorang ibu-ibu dengan pakaian hijau muda membukakan pintu. Ibu itu hanya tersenyum kepada kami. Aku menatap ibu itu, putih, kurus, rambutnya keriting sebahu. Kira-kira umurnya sekitar 50 tahun. Di bawah dagunya ada kain biru menggelantung di lehernya. Mungkin difungsikan sebagai penutup mulut. Tidak lama di belakang ibu itu muncul seorang laki-laki paruh baya. Umurnya lebih tua dari ibu itu tapi wajahnya tidak jauh berbeda.
“Ada tamu ternyata. Maaf anda cari siapa?” bapak itu mulai menyapa kami.
“Apa benar ini rumahnya bapak Ivan? Saya dan anak saya mau cari kos-kosan, pak.”
“Iya benar. Mari masuk dulu.” Seorang laki-laki yang bernama Bapak Ivan itu melebarkan pintunya. Mempersilahkan kami masuk.
 “Untuk tempat kosnya ada di lantai atas, mari kita ke atas saja.” Ujar pak Ivan sambil mengajak aku dan ayah naik ke lantai atas.
Ada tangga di sebelah ruang dapur, depan tangga tersebut ada sebuah kamar mandi. Dan sebelah kamar mandi ada pintu untuk menuju samping rumah. Ku edarkan pandanganku ke luar pintu tersebut. Ada jalan kecil menuju selatan. Di sana tampak berderet-deret rumah. Dan jalan ke arah utara adalah jalan menuju gang di mana aku dan ayah masuk tadi. Rumahnya pak Ivan sangat strategis. Kami lalu naik tangga yang keramiknya berwarna putih tulang. Di atas ternyata lebih luas dari pada ruangan di bawah. Ada empat kamar, satu kamar mandi dan dapur.
“ Ada dua kamar yang kosong. Yang sebelah barat ini bisa dipakai tiga orang karena ranjangnya ada tiga. Sementara yang depannya ini hanya bisa ditempati dua orang.” Pak Ivan menunjukan masing-masing kamar kosnya.
“ Oh iya, kenalkan ini tadi istri saya. Panggil saja ibu Ivan. Maaf, kalau dari tadi istri saya tidak menyapa kalian. Dia sudah 3 tahun ini tidak dapat bicara. Tiga tahun yang lalu pita suaranya harus diambil karena ada kanker. Jadi meskipun bicara, kita tidak dapat mendengar suaranya.”
Ku menoleh ke arah bu Ivan. Bu Ivan menyunggingkan senyum dan mencoba untuk berbicara. Tapi sama sekali aku tak mengerti apa yang dibicarakannya.
Ku langkahkan kaki ke kamar yang menghadap ke barat. Di dalamnya ada tempat tidur model susun yang hanya cukup dipakai dua orang. Atas dan bawah. Dua lemari pakaian, meja rias dan meja belajar. Sebelah tempat tidur ada jendela yang dipadu kelambu biru laut. Ku rasa cukup nyaman untuk tempat kos. Setelah kurasa cukup melihat kamar tersebut, aku masuk ke kamar yang menghadap ke timur. Kamar tersebut lebih besar dari kamar pertama. Ternyata di sana ada satu tempat tidur model susun dan satu tempat tidur biasa. Cukup untuk tiga orang. Satu lemari pakaian besar, meja rias, meja belajar dan juga sisi samping ada jendela bertirai biru. Persis seperti di kamar pertama. Tapi tidak tahu kenapa aku lebih tertarik untuk tinggal di kamar pertama. Oh, ya. Di luar kamar juga dilengkapi TV, setrika dan juga kulkas. Bahkan peralatan dapur pun tersedia.
“Bagaimana Anda tertarik yang mana?” Pak Ivan mencoba bertanya padaku yang sedang memilih.
“Saya tertarik yang kamar pertama pak. Berapa bayar kosnya perbulan?”
“Yang kamar pertama perbulan tiga ratus ribu rupiah sedangkan untuk kamar kedua harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Ini untuk perkamarnya. Jadi seandainya satu kamar ada dua orang berarti dibagi dua. Khusus kamar yang kedua untuk tiga orang.” Pak Ivan menjelaskan panjang lebar.
“Pilih yang mana, Ma?” Ayah menyerahkan semuanya ke aku.
“Aku pilih yang kamar pertama, Yah.”
Hari itu aku mendapatkan tempat kos dan kehidupan yang baru di Surabaya. Aku telah berjanji pada ayah dan ibuku bahwa aku akan belajar dengan baik.
***
“Maaf, Nak. Bisa geser tempat duduknya?”
Aku terlonjak kaget dengar suara ibu separuh baya yang berdiri di sampingku. Lamunanku buyar seketika.
“Njih, Bu. Monggo.” Aku menggeser tubuhku ke kiri agar ibu tersebut dapat duduk di sampingku.
“Mau kemana, Nak?” Tanya ibu tersebut
“Ke Surabaya, Bu. Ibu turun mana?”
“Ibu turun di Tandes. Jenguk putri ibu yang barusan melahirkan. Mau kuliah?”
“Gladi bersih wisuda, Bu. Alhamdulillah saya sudah lulus kuliah.” Jawabku tersenyum
“Selamat ya, Nak. Semoga ilmunya bermanfaat dan bisa membanggakan kedua orang tua.”
“Amin. Terima kasih, Bu.”
Kereta terus berlari dan berlari melewati sang waktu, sudah tak ku dengar suara ibu di sampingku. Ibu itu sudah tertidur dengan pulasnya.  Di luar jendela, mentari sedikit demi sedikit menampakan sinarnya menerangi alam. Bulir-bulir padi berwarna emas terpantul cahaya fajar, sungguh indah. Aku kembali mengingat semua tentang diriku. Bagaimana aku melewati hari-hariku di Surabaya selama ini, semua seperti mimpi.
***
“Gresik, Gresik, Lamongan, Bojonegoro!!”
Para penumpang berebut masuk bus jurusan Surabaya-Bojonegoro. Maklum, hari sudah semakin panas. Jarum jam pun sudah menunjukan pukul 12 lewat seperempat. Stasiun Wilangon sudah ramai dipadati penumpang dengan tujuan masing-masing. Ku berlari menerobos penumpang lainnya. Tentu saja cari tempat duduk yang dekat dengan sopir karena aku mabuk kendaraan.
“Turun mana, Mbak?” tegur seorang kondektur.
“ Terminal Lamongan, Pak.” Aku memberikan delapan lembar uang seribuan.
Dari tadi mataku sudah sembab oleh air mata. Tapi ku coba untuk ku tahan. Hari ini sepulang dari kuliah, aku langsung pulang ke Lamongan karena dapat kabar bahwa ayah sedang sakit dan dirawat di Rumah sakit. Hatiku sedih. Aku teringat oleh ibu. Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu kuat menghadapi cobaan ini? Selama ini ayah tidak pernah sakit parah.
Sesampainya di terminal Lamongan, aku langsung menuju RSUD dr. Soegiri Lamongan. Di sanalah ayah dirawat. Tangisku pecah ketika ku lihat ibu berusaha menyadarkan ayah. Ayah koma selama 2 hari. Hari ini adalah awal dari cobaan yang ada.
Sejak itu, banyak fikiran membelenggu hati ibu. Ayah yang masih sakit dan aku yang masih awal masuk kuliah. Aku tak dibolehkan ibu untuk berhenti kuliah. Karena ibu ingin melihat aku sukses. Agar aku tak bernasib seperti beliau. Putus sekolah semenjak SD. Tiap malam, ku dengar isak tangis ibu di setiap doa di sepertiga malamnya. Sebuah doa yang beliau panjatkan buat kesembuhan ayah. Dan doa tulus dari  seorang istri sekaligus seorang ibu memang ajaib. Selang beberapa bulan, ayah sudah bisa jalan. Meskipun harus menggunakan tongkat sebagai penompang badannya.
Untuk bisa melanjutkan kuliah dan meraih mimpiku, akhirnya ku putuskan untuk kuliah sambil bekerja. Mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan importer alat-alat kecantikan sebagai seorang customer service yang gajinya lumayan untuk biaya kuliah dan hidupku selama di Surabaya. Dan aku kembali semangat menjalani hari.
***
“Ya Rabbi, jika kau izinkan aku tidak ingin mendengar kabar ini. Sebuah kabar di siang bolong yang membuat aku tak ingin bernafas lagi.”
Pagi masih buta saat aku membuka mata. Suara adzan subuh masih terdengar di telinga. Setelah shalat subuh aku siap-siap untuk berangkat ke Surabaya karena keretaku berangkat jam 5 pagi. Ibu dan ayah sudah bangun. Ayah duduk di depan tv sambil melihat aku yang sibuk menyiapkan bekal makanku. Ibu sendiri sibuk masak di dapur.
“Ojo berangkat toh, Nduk. Dinone kecepit. Sesuk yo dino minggu kerjoe prei.” Ibu coba cegah aku untuk berangkat waktu itu.
“ Kerjo melu uwong kok gak melbu, gak apik bolos kerjo.” Ayah menimpali pembicaraan ibu.
Aku tersenyum mendengar ayah bicara. Ayah selalu ingin jadi aku anak sukses, meskipun harus bolak balik Surabaya-Lamongan. Sedangkan ibu, hatinya terlalu lembut. Selalu khawatir dan kasihan melihat aku yang subuh-subuh sudah berangkat ke Surabaya.
Jumat ini aku libur kerja karena memperingati hari Raya Idul Adha. Sabtunya aku harus kembali bekerja meskipun cuma sehari karena minggu libur lagi. Aku sudah pindah kerja di perusahaan Branding dan Desain di Surabaya dengan jabatan seorang sekretaris. Tuntutan profesiku yang mengharuskan aku harus kembali ke Surabaya. Sedangkan kuliahku sudah semester akhir dan siap untuk tugas akhir.
Aku tak pernah menyangka bahwa pagi itu adalah hari terakhir aku mendengar ayah bicara. Melihat ayah tersenyum saat aku naik becak menuju stasiun.
Sekitar jam 1 siang saat aku berada di kantor, handphoneku bergetar. Ada pesan singkat dari teman kosku. Pesannya buat aku langsung shock. Ayah sedang di rawat di rumah sakit. Tuhan, cobaan apa lagi ini. Aku telepon ke rumah dan yang mengangkat bukan ibu atau ayah melainkan saudaraku. Aku disuruh pulang siang itu juga. Tangisku sudah pecah di sana. Teman-teman kantor menghibur dan ikut mendoakan ayah bahkan aku diantar ke Lamongan oleh teman kantorku.
Dalam perjalanan pulang, handphoneku selalu berdering. Pamanku memberi kabar bahwa ayah kritis. Aku sampai di Lamongan sekitar jam 4 sore. Aku dijemput kekasihku dan ke rumah sakit bersamanya.
Ruang UGD. Sebuah ruang yang akan selalu ku ingat setiap ke rumah sakit Muhammadiyah Lamongan. Ibu tiada henti-hentinya menangis dan membacakan ayat-ayat al-quran di telinga ayah. Ayah kritis saat itu. Ibu menyuruhku melantunkan ayat-ayat al-quran agar ayah segera sadar. Ibu, aku tak tega melihat penderitaan beliau lagi. Sudah cukup saat ayah sakit pertama kali.
Aku pingsan di samping ayah karena aku tak kuat dengan semuanya. Ibu menangis semakin histeris melihat itu semua. Dan di saat ibu keluar menyusul aku, di saat itu pula ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Pergi meninggalkan kami. Meninggalkan untuk selamanya. Tepat jam 8 malam pada Sabtu, 27 Oktober 2012 ayah pulang ke Rahmatullah.
***
“Mbak, sudah sampai di stasiun Pasar Turi.” Suara bapak kondektur membangunkan lamunan panjangku.
Aku bergegas turun dari kereta dan menuju jalan raya untuk mencari angkot jurusan Blauran karena Gladi bersih wisudaku diadakan di hotel Empire. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan angkot, akhirnya aku tiba di hotel. Gladi bersih dilaksanakan dengan khidmat seolah hari ini aku benar-benar telah diwisuda.
I have a dream, a song to sing To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
When I know the time is right for me
I’II cross the stream, I have a dream

Semua orang punya mimpi, begitu pun aku. Walau nanti ayah tak bisa menyaksikan aku wisuda, setidaknya ayah telah berhasil membuat aku menjadi anak berhasil.

#Tantangan1
#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-4

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja