Bedah Tulisan ODOP: Dari Kritik Pedas Hingga Saran Membangun

Awal ikutan One Day One Post (ODOP) batch 5 sebenarnya ingin istiqomah dalam menulis. Karena setiap peserta ODOP diwajibkan untuk menulis setiap hari di blog masing-masing peserta. Namanya juga One Day One Post, jadi satu hari satu tulisan. Selama mengikuti ODOP yang dimulai pada tanggal, banyak sekali manfaat yang aku dapatkan. Selain ilmu, juga menambah teman.

Kegiatan ODOP ini tidak hanya sekedar menulis setiap hari, tapi selama kegiatan ada materi kelas online yang berlangsung di grup whatsapp planet, yaitu grup utama ODOP batch 5. Materi yang disajikan oleh para pakar menulis sangat bermanfaat untuk menambah wawasan. Di samping mengikuti kelas online, ada juga jadwal Blog Walking setiap hari. Nah, ini kesempatan buat peserta untuk jalan-jalan mengunjungi blog teman-teman yang lain. Membaca, komen, subscribe maupun belajar dari tulisan teman yang telah dibaca. Tidak hanya itu, yang paling ditunggu-tunggu adalah bedah tulisan.

Bedah tulisan dilaksanakan secara online di grup whatsaap setiap malam pada Selasa sampai dengan Kamis. Kebetulan aku masuk grup Merkurius sehingga bedah tulisan dilaksanakan di grup tersebut. Di bedah tulisan ini, teman-teman ODOP lainnya dapat mengkritik, mengevaluasi serta memberi saran pada tulisan yang dibedah.

Tanggal 7 Februari 2018 kemarin, saatnya bedah tulisanku. Bedah tulisan ke-8. Perasaan campur aduk jadi satu. Antara deg- degan sekaligus senang karena melalui bedah tulisan ini, aku tahu apa yang kurang dari tulisanku. Pukul 20.00 WIB, bedah tulisan dimulai dengan perkenalan dan share tulisan yang akan dibedah. Untuk bedah tulisanku, aku dibantu Mas Agus sebagai moderatornya. Tulisanku yang dibedah berjudul “Pertemuan Singkat”. Sebuah tulisan fiksi yang mengangkat tema selingkuh. Sebenarnya ini sedikit true story, jadi aku sengaja mengangkat hal ini ke dalam tulisanku. Setelah tulisan dishare, banyak sekali teman-teman yang berkomentar. Mas Agus langsung tidak segan-segan menanyakan mengapa aku menulis tema selingkuh dan memberi masukan bahwa sebagai penulis seharusnya memperhatikan pesan moral dengan tersadarnya pelaku perselingkuhan tersebut. Karena aku juga menyadari bahwa tulisanku endingnya menggantung, dan aku menulisnya secara dadakan bahkan buru-buru menyelesaikannya.
Kritik lain yang membangun yaitu dari Mas Heru. Mas Heru menyoroti tulisan saya dari openingnya. Opening yang kurang greget dan kurang nyambung antara kalimat, pertama, kedua dan dialog di bawahnya. Terlalu singkat untuk jenis opening menggunakan setting tempat. Saran Mas Heru bahwa opening yang nampol itu kalau langsung masuk konflik. Langsung hajar di paragraf pertama.
“Ingat, opening, tiga atau empat kalimat pertama adalah kunci keberhasilan cerpen.” (Heru)
Mbak Leska dan Mbak Renee juga menambahkan kritik tentang opening, bahkan Mas Yoga memberikan beberapa contoh opening dari setting tempat. Pokoknya yang dibahas tentang opening.
Lain lagi dengan Mbak Eka yang mengkritik tentang penggunaan kata. Penggunaan kata ku yang terlalu banyak digunakan. Harus banyak memainkan perbendaharaan kata.
Mbak Nurul fokus ke bagian endingnya, karena harus baca dua kali untuk mengerti siapa yang aku maksud dalam paragraph terakhir. Dan tentang logika cerita. Aku mengambil setting gunung bromo padahal waktu itu ada adegan dimana si tokoh dapat pesan melalui handphone. Mempertanyakan apa emang di Bromo ada sinyal?
Mbak Aisyah menyarankan agar ada part 2 dari cerpen ini karena memang ceritanya menggantung dan pesan moralnya belum dapat. Terlalu banyak dialog daripada porsi deskripsi lingkungannya.
Mengenai tulisan percakapan melalui handphone, Mbak Renee menjelaskan bisa menggunakan font beda. Dan juga megingatkan untuk setiap paragraph baru bisa pakai double enter agar tulisannya tidak terlihat padat merayap.
Dan terakhir kritik dari Mbak Floren, tentang penggunaan kalimat efektif. Karena tulisanku banyak kalimat panjang dan kurang pangkasan. Seperti: Angin mulai berhembus -> Angin berhembus, Tapi wanita selalu mencoba untuk setia -> Tapi wanita selalu mencoba setia.

Jadi kesimpulan yang didapat dari bedah tulisan ini banyak sekali, yaitu:
1. Opening yang baik awal dari suksesnya tulisan. Opening harus makjleb, jika menggunakan deskripsi tempat, harus memilih diksi yang memukau.
2. Penggunaan perbendaharaan kata harus lebih diperhatikan
3. Menggunakan kalimat efektif dan tidak boros kalimat
4. Logika cerita penting diperhatikan
5. Dan jangan lupa memberi pesan moral di setiap tulisan yang diposting.

Bedah tulisan ini benar-benar mengupas tulisanku sekaligus memberi saran untuk aku ke depannya. Semoga di lain waktu, dapat kesempatan dibedah lagi. Karena penulis tidak ada apa-apanya tanpa pembaca, tidak ada apa-apanya tanpa kritik dan saran dari orang lain.



#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-30

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja