HUJAN DAN KENANGAN


“Aku benci hujan.”
“Kenapa? Tidak ada yang salah kan dengan hujan?”
Aku terdiam. Matanya memandangku dengan penuh rasa penasaran.
“Ayolah, Mia. Hujan hari ini itu lebih indah dari biasanya. Tanpa petir dan tanpa badai.”
“Apakah aku perlu mengulang kalimatku tadi? Aku benci hujan, Digo. Aku sangat benci hujan.” Ku tekankan suara pada kata ‘benci’. Aku berlari ke kamar meninggalkan Digo yang masih mematung di depan pintu rumahku.

***
“Mia, apa kamu tahu bahwa setiap hujan yang turun selalu membawa cerita di setiap orang yang merasakannya. Aku suka hujan. Hujan bagiku adalah anugerah yang sangat indah. Aku selalu menanti hujan karena setelah hujan ada pelangi yang datang untuk menyapaku. Kamu suka hujan kan, Mia?”
Aku hanya mengangguk pada seorang lelaki di depanku. Aku dari kecil memang suka pada hujan. Ada perasaan yang tak bisa ku terjemahkan setiap kali bulir-bulir air hujan itu jatuh membasahi tubuhku.
“Ayo, Mia. Aku ingin membawamu ke suatu tempat. Tempat di mana kamu bisa bebas merasakan hujan sesukamu.”
Lelaki tersebut menarik tanganku. Kami  berlari-lari di bawah langit yang basah. Seluruh badan kami sudah sepenuhnya terjamah oleh air hujan. Lelaki tersebut membawaku ke suatu lapangan yang luas. Kami berlarian layaknya anak yang masih berumur lima tahun. Tertawa-tawa dan saling bercanda. Tiba-tiba di tengah rintik-rintik air hujan, Devan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Tampak kotak persegi berwarna merah telah ada di tangannya.
“Kamu mau kan tunangan denganku, Mia?” ucapnya sambil membuka kotak merah tersebut. Tampak sebuah cincin perak berkilauan diterpa derasnya hujan.
“Kamu melamarku sambil hujan-hujan seperti ini?” Tanyaku masih tak percaya.
“Iya. Aku sedang membuat sejarah baru untuk kisah cinta kita. Kamu mau kan?”
“Aku mau. Aku mau tunangan denganmu, Devan.” Jawabku keras mengalahkan kilat yang tengah lewat.
Kami bergenggaman tangan erat dan tidak ingin terlepas untuk selamanya.

***
“Kamu belum bisa melupakan Devan?”
Aku menoleh pada Digo. Cappucino yang siap ku minum ku letakan kembali ke meja.
“Adakah topik pembicaraan lain selain Devan?” Jawabku sedih.
“Maaf. Aku tak bermaksud mengingatkanmu kembali pada Devan.”
“Tidak apa. Tak perlu minta maaf. Kamu tidak salah.”
Aku memandang jendela di depanku. Kaca-kacanya berembun memperlihatkan air-air sisa hujan tadi malam yang masih menempel di sana. Selalu saja tiada hari tanpa hujan. Ada saatnya hujan dirindukan tapi ada saatnya juga hujan tak diharapkan. Dan  aku lebih memilih yang terakhir.
“Bagaimana kabar, Vina?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Baik-baik saja. Mungkin. Terakhir kali aku melihatnya waktu ada pasar malam minggu lalu.” Jawab Digo sambil menyeruput teh panas kesukaannya.
“Kalau saranku, kamu harus meminta maaf padanya. Bukankah dia gadis yang cantik dan baik? Dia juga pasti sangat mencintaimu. Semua itu terlihat dengan apa yang telah dia korbankan buat kamu.”
“Aku tidak suka padanya. Dan kamu tahu kan kalau aku lebih suka gadis pecinta hujan? Bukan seperti Vina yang sangat jijik dengan air hujan. Katanya hujan membawa penyakit. Selain itu aku juga mencintai orang lain.”
“Digo. Digo. Kamu itu seharusnya bersyukur ada seseorang yang sangat mencintaimu lebih dari dirinya sendiri. Kamu pasti akan menyesal jika suatu saat dia meninggalkanmu. Penyesalan itu letaknya di belakang.” Ujarku sambil geleng-geleng kepala. Heran dengan apa yang ada di fikiran Digo.
“Suatu saat kamu akan mengerti, Mia. Mengerti apa yang ada di dalam hatiku saat ini. Dan aku tahu kalau penyesalan letaknya ada di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.” Jawab Digo dengan senyumnya yang lebar. Senyum yang diperlihatkan layaknya seorang bintang iklan pasta gigi.
“Dan suatu saat kamu akan mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang menyayangimu. Ditinggalkan selamanya.” Kataku mencibir.
“Setidaknya aku tidak akan berlama-lama patah hati seperti kamu. Dan tidak membenci hujan.” Digo menjawab penuh kemenangan.

***
Hujan datang membawa sejuta harapan. Membawa masing-masing setiap impian manusia. Aku mondar-mandir di depan halte bus. Sudah dua jam aku menunggu Devan untuk menjemputku tapi wajah manisnya belum kelihatan nongol di depan mataku. Ku berkali-kali mencoba menghubunginya lewat ponselku tapi hasilnya tetap nihil. Teleponku tidak dijawab. Sore ini aku ada bimbingan skripsi dengan dosen di kampus dan Devan bersikeras untuk menjemputku sepulang aku bimbingan. Dia tidak mau aku naik bus di tengah hujan mengguyur. Masih teringat suara merdunya waktu meneleponku.
“Mia, pokoknya kamu aku jemput. Aku tidak mau kamu naik bus. Malam ini aku punya surprise buat kamu.”
Devan, kamu memang seseorang yang penuh kejutan buatku. Teringat waktu pertama kali kita ketemu di acara ospek dulu, sebagai ketua ospek wajah kamu sangat jutek. Terlebih untuk adik kelas kamu seperti aku. Tapi ternyata kamu baik. Dan kita sama-sama pecinta hujan.
‘Tiinnnn……..’
Suara klakson mobil di depan halte mengagetkanku. Seorang lelaki mengampiriku dan mengucapkan beberapa kalimat di antara keriuhan suara hujan. Kalimat-kalimat tersebut membuat badanku limbung dan kedua kakiku tiba-tiba tak kuat untuk berpijak.

***
Senja yang ku cinta menghilang disapu awan yang kian menghitam. Aku benci suasana ini. Lagi-lagi hujan harus turun di sepanjang sore. Ku eratkan selimut hingga menutupi separuh badanku. Entah kenapa setiap kali mencium aroma hujan aku selalu merasa kesepian, aku selalu rindu candanya yang hangat. Dulu Devan yang memperkenalkan pada hujan. Dan kini karena kenangan Devan aku benci hujan. Dia mungkin sekarang tahu kalau aku sedang merindukannya. Hujan selalu bercerita tentang apa yang terjadi di tengah rintikannya. Terkadang hujan pun menciptakan kisah tersendiri, sebuah kisah tentang anak-anak manusia yang sedang dilanda asmara atau tentang penghianatan, dan kehilangan?
Perlahan hujan pun turun menuruni pipiku, meninggalkan bekas yang masih saja tersimpan perih. Rindu ini sama seperti bulan-bulan kemarin. Aku merindukanmu, Devan.

***
Hujan semakin deras saat aku tiba di rumah sakit. Digo, sahabat Devan menjemputku di halte saat aku menunggu Devan. Aku masih belum percaya dengan semua yang Digo ceritakan.
“Mia, Devan kecelakaan. Sekarang dia di rumah sakit.” Ucap Devan waktu menemuiku di Halte. Tapi setelah itu aku sudah tak mendengarkan semua apa yang Digo katakan.
Rumah sakit ini begitu dingin saat aku memasukinya. Devan terbaring di tempat tidur. Wajahnya tak ku temui karena kain putih telah menutupi semua tubuhnya.
“Devan telah meninggal, Mi. Dia kecelakaan waktu mau menjemput kamu di halte. Padahal dia sudah menyiapkan semua kejutan buat hari jadian kalian yang sudah satu tahun. Kamu yang sabar, Mia.” Digo menenangkan aku yang menangis tiada henti.
Sejak saat itu aku jadi benci hujan karena hujan mengingatkan semua kenanganku tentang Devan. Kami berdua sama-sama pencinta hujan Devan melamarku juga di bawah rintik-rintik hujan, dan sekaligus Devan meninggal waktu hujan tengah turun ke bumi Lamongan. Kenapa harus hujan?

***
“Mia, sampai kapan kamu seperti ini. Semua ini akan menyiksa dirimu sendiri.” Entah sudah berapa ratus kali Digo menasehatiku seperti ini.
Mataku kembali meleleh mengeluarkan air mata. Semua kenangan tentang Devan bermain-main di memori otakku. Semua kenangan itu terekam dengan baik dan tidak ada yang terlewatkan sekalipun.
“Apa kamu belum bisa membuka hatimu untuk lelaki lain, Mia?” Digo bertanya dengan penuh kesungguhan.
“Aku tidak tahu, Digo. Selama ini hanya kamu yang selalu menemaniku dan menghiburku. Selain itu tidak ada lelaki yang dekat denganku. Kamu sahabatnya Devan yang paling mengerti aku.”
“Aku mencintaimu, Mi.” Digo berkata lirih
Aku memandangnya nanar.
“Tapi kamu sahabatnya Devan. Dan aku tak mungkin mencintaimu.” Jawabku sedih.
“Mia, aku tahu kamu sangat mencintai Devan. Tapi kamu juga harus tahu bahwa dunia tidak akan berhenti berputar saat kamu kehilangan Devan. Bukan kamu saja yang merasa kehilangan Devan tapi aku juga sangat kehilangannya. Aku berjanji pada Devan untuk selalu menjagamu. Ayolah Mia, ini sudah setahun Devan meninggal. Ayo bangkit dari kesedihanmu.  Devan tentu tidak ingin kamu seperti ini.”
Digo benar. Semua ucapannya benar bahwa aku tak boleh larut dalam kesedihanku. Devan telah pergi untuk selamanya. Aku berlari ke luar kampus. Ku berdiri di depan lapangan basket, menengadah ke langit membiarkan air hujan membasahiku dan semua kenangan tentang Devan.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-23

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja