Karena Senja Punya Cerita


Mungkin akan ada saatnya aku harus mengalah pada senja. Membiarkannya mewarnai langit meski karenanya aku kembali terjerumus ke lembah masa lalu. Aku suka senja tapi aku tidak suka dengan segala kenangan yang ditinggalkannya. Segala kenangan tentangnya. Segala bahagia yang diciptakannya. Dan juga segala luka atas kepergiannya.

Dan aku Ayla, seorang perempuan pencinta senja yang harus rela mematikan senja sekaligus kenangan yang membersamainya.
Berhasilkah misiku untuk mematikannya? Atau aku malah membebaskannya?

***

Senja, 1825 hari yang lalu

Aku sedikit terhenyak saat pertama kali bertemu denganmu. Ralat, bukan pertama kali tapi lebih tepatnya bertemu kembali setelah 3 tahun berlalu. Aku tak ingat dulu bagaimana penampilanmu tapi aku masih ingat benar sorot matamu yang bak elang itu. Bahkan aku sedikit ragu, apa benar lelaki yang kutemui sekarang adalah lelaki yang saat ini sedang mengirim sms padaku.
'Aq sdh di depan. Kamu sdh turun kan?'
Aku baca sekali lagi sms kamu. Bola mataku menjelajah setiap sudut pintu stasiun. Dan aku menemukanmu. Tepat di atas motormu. Kamu menarik sedikit bibirmu, membentuk suatu senyuman untukku.
"Maaf  menunggu lama. Keretanya telat," ada rasa canggung menyergap diriku.
"Gak apa-apa. Langsung pulang?" tanyanya sambil menyalakan mesin motornya.
Aku hanya mengganggukan kepala dan naik ke sadel belakang motornya.
Tak ada kalimat-kalimat yang mengucur deras di antara deru motor kami. Kami saling diam. Sementara di atas cakrawala sana, senja terlihat bergelut melepas sore dan tergesa-gesa beranjak ke malam.

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja