Kisah Gadis berkerudung Merah (1)

“Saat ini hujan turun dengan sangat deras. Aku bisa merasakan percikannya,” ucapnya kepadaku. Gadis itu mendongakan kepala, berharap air hujan membasahi tubuhnya yang ringkih. Perlahan, bulir-bulir air matanya menyeruak turun membasahi pipi lesungnya. Dia tahu bahkan dia sadar kalau di atasnya tak ada hujan turun, tak ada mendung yang begelayut. Yang dia tahu hanya segumpalan semen yang tengah keropos, sarang laba-laba yang tiap hari semakin semrawut, bau pesing dan pengap yang selalu mampir ke cuping hidungnya. Hanya hawa dingin menusuk tulang, tanpa ada hujan.
Ah, sudah berapa musim yang dia lalui di sini? Tubuhnya tiap hari semakin menyisakan kulit dan tulang. Pakaian yang dikenakannya pun sama seperti tahun-tahun kemarin, tak ada beda. Rambutnya tertutup rapat terbalut kerudung merah yang sangat lebar di bagian dada. Warnanya sudah tak semerah darah, tapi dia masih mengenali kalau kerudung yang di pakainya pertama kali datang ke tempat ini adalah warna merah. Wajahnya kusam, tulang pipinya terlihat menonjol dan matanya sembab. Sudah berhari-hari dia menangis setelah mendengar sesuatu yang membuat dirinya tak kuat berpijak. Dua hari yang lalu dia pergi dari tempat ini, yang ku tahu dia menghadiri sidang di pengadilan. Entah sudah berapa kali dia menghadiri acara tersebut tapi tak pernah ku lihat dia semurung ini.
“Kamu tahu, waktu aku kecil Ayah selalu menggendongku menuruni pematang sawah yang padinya telah menguning. Di sana air mengalir ke sungai dengan derasnya tak ada jeda. Dan aku sangat senang saat ibu datang dengan makanan di tangannya. Kami bersama-sama makan di sebuah gubuk tengah sawah.” Dia mulai bercerita padaku setelah sekian lama mengacuhkan keberadaanku atau lebih tepatnya menganggap aku tak ada. Aku hanya bisa mendengar semua cerita tentangnya. Aku tahu kalau dia gadis baik.
“Ayahku sangat baik orangnya meski semua tak menganggapnya demikian termasuk aku.” Nada suaranya yang keluar demikian getir, segetir alur hidupnya di sini. Kedua bola mata itu menggelepar gelisah, menahan air mata yang menggenang di setiap sudutnya.
“Malam itu, aku seperti tak mengenal ayahku lagi. Ayah pergi dengan seorang wanita yang dikenalnya di Pasar Sidoharjo. Seorang wanita berambut jagung itu merusak hidup kami malam itu juga. Ayah kepincut dengan seorang janda berbadan dua. Ya, wanita itu lagi bunting. Entah itu anak ayah apa bukan. Tapi sejak itu aku mulai membenci ayah, tak ku dengarkan lagi penjelasan ayah terakhir kalinya saat meninggalkan rumah. Dan akhirnya aku terdampar di sini karena pelampiasanku. Aku pergi merantau ke negeri seberang untuk membeli kebahagiaanku kembali. Kau tahu apa yang ku dapat…?” suaranya menggantung, ku lihat air matanya kembali mengalir deras. Ah, tak tega aku melihatnya demikian sedih. (Bersambung)


#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-24

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja