Mengenal Sejarah Lamongan Lewat Buku



Kota Lamongan adalah kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur. Seringnya dikenal sebagai kota Soto. Setiap kota pasti tidak lepas dari yang namanya sejarah. Sebagai generasi muda, tentu kita harus mempelajari sejarah bangsa kita. Tapi tidak semua orang mengetahui sejarah tempat tinggalnya.

Nah, ini ada rekomendasi buku bagus terkait sejarah Lamongan dari masa nirleka hingga sekarang.
Ditulis oleh Tim Unit Kajian Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT) buku berjudul SEJARAH LAMONGAN DARI MASA KE MASA ini menyajikan sebuah sejarah mulai dari masa kerajaan, peperangan belanda, hingga tradisi maupun makanan khas Lamongan.
Tim penulis UK2JT ini yaitu:
1. Dr. Sarkawi B. Husain, M.Hum.
2. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum.
3. Gayung Kusuma, M.Hum.
4. Ikhsan Rosyid, M.A.
5. Adrian Perkasa, M.A
6. Drs. Muryadi, M.IP.
7. Dra. Adi Setijowati, M.Hum.
8. Shinta Devi I.S.R, M.A.
9. Ahmad Ryan Pratama, M.A.

Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Airlangga University Press Surabaya tahun 2017.

Tahun kemarin, pada hari Kamis tanggal 16 November 2017, perpustakaan Lamongan mengadakan bedah buku SEJARAH LAMONGAN DARI MASA KE MASA. Acara bedah buku dihadiri oleh instansi-instansi pemerintahan, instansi sekolah serta pegiat literasi di Lamongan. Acaranya pun hanya terbatas untuk peserta undangan.
Saya sendiri waktu itu mewakili Forum Lingkar Pena Cabang Lamongan.

Lalu apa saja isi dari buku tersebut? Berikut reviewnya:

Gambaran singkat Buku SEJARAH LAMONGAN DARI MASA KE MASA

Bab I
Airlangga di Lamongan.

Airlangga dikenal juga dengan sebutan Erlangga, Niralangga dan Jalalangga. Menurut Poerbatjaraka dalam tulisannya di buletin Djawa edisi X berarti "Ia yang menyebrangi air". Nama ini sesuai dengan kondisi tokoh Airlangga yang berasal dari Pulau Bali kemudian harus menyebrangi perairan (selat Bali) hingga kemudian menjadi raja di Jawa.
Dikisahkan pada tahun 1016 Masehi terjadi peristiwa tragis yang disebut pralaya. Peristiwa tersebut mengakibatkan Airlangga beserta pengikutnya mengungsi. Kerajaan Airlangga mengalami tiga kali perpindahan mulai dari Wwatan Mas, Kahuripan, dan Dahanapura.
Letak ketiga keraton diduga ada di Lamongan.

Bab II
Letak Sidayu atau Sedayu

Yang dikenal sekarang Sedayu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gresik. Kesejarahan nama Sidayu atau Sedayu dapat diketahui misalnya dari beberapa catatan sejarah khususnya di masa Islamisasi Nusantara hingga kolonial. Tapi tidak banyak yang menyadari bahwa Sidayu yang dimaksudkan dalam catatan-catatan dari abad kelima belas hingga abad kedelapan belas bukanlah Sidayu yang dikenal sekarang.
Lalu di mana Sidayu yang dimaksudkan?
Salah satu peta abad ke-18 yang dibuat oleh orang Eropa yakni Jean Baptiste Bourguignon d'Anville, seorang kartografer dari Perancis tahun 1752, terlihat letak Sidayu berada di antara Tuban dan Gresik.

Bab III
Islam dan Perkembangan di Lamongan

Di Lamongan terdapat beberapa makam islam kuno yang berkaitan dengan awal penyebaran agama islam, yaitu:
1. Makam Sunan Drajat di Paciran
2. Makam Mbah Deket atau Sunan Lamongan
3. Makam Mbah Lamong yang diyakini sebagai Rangga Hadi
4. Makam Raden Nur Rahmat, Sendang Duwur
5. Makam Pangeran Sedamargi di Mantup
6. Makam Panembahan Agung Singodipuro di Badu Wanar
7. Makam Mbah Barang di Karangbinangun
8. Makam Santri di Paciran

Bab IV
Sejarah Pemerintah Kabupaten Lamongan

Sunan Prapen mengangkat santrinya Hadi sebagai Ronggo. Karena prestasinya, Sunan Giri mengangkatnya menjadi adipati dengan sebutan Tumenggung Surajaya.
Pengangkatan Rangga Hadi sebagai Adipati, menurut Panitia Penelitian Penyusun Naskah Hari Jadi dan Sejarah Lamongan jatuh pada hari Kamis Pahing tanggal 10 Dzul-hijjah 976 H, bertepatan dengan tanggal 26 Mei 1569 M. Dan hari tersebut oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan dengan keputusan nomor 05 tahun 1983 tanggal 26 Desember 1983 ditetapkan sebagai Hari Jadi Lamongan.

Lamongan jatuh ke tangan Mataram pada tahun 1612.

Kadipaten Lamongan secara resmi jatuh ke dalam kekuasaan VOC pada tanggal 18 Mei 1747, sesuai Perjanjian Giyanti Nomor 2 tentang penyerahan wilayah.

Sekitar abad XVIII VOC mengalami kebangkrutan sehingga kekuasaan ataa Hindia Belanda (Indonesia) diserahkan kepada pemerintah Belanda.

Pemerintah Hindia Belanda melakukan tindakan administratif kepemerintahan atas Kadipaten Lamongan pada tahun 1824.

Setelah penjajahan Belanda selama 350 tahun, kemudian digantikan oleh penjajah dari Bala Tentara Jepang yang berlangsung tanggal 18 Maret 1942 sampai 17 Agustus 1945.
Jepang masuk ke Lamongan melalui pendaratan di Tuban lalu ke Babat dan Lamongan. Tentara Jepang di Lamongan terus langsung menguasai kecamatan dan kota.

Setelah Proklamasi kemerdekaan, pada pertempuran di daerah Benjeng (Barat kota Surabaya) pada tanggal 2 Mei 1946, lima orang putera Lamongan anggota Laskar Hiszbullah, yakni: Khairul Huda, Djamil, Askan, Sutadji, dan Abdullah gugur di medan laga. Yang sekarang dimakamkan di Taman pahlawan Kusuma Bangsa Lamongan.

Pada tanggal 19 Desember 1949 pukul 08.00, Belanda menyerahkan kekuasaab militer atas Lamongan kepada Republik Indonesia. Baca juga: Letupan Bara di Bumi Lamongan: Agresi Militer Belanda II pada 9 Maret 1949

BAB V
Lamongan di Awal Era Reformasi

Pemerintah daerah Kabupaten Lamongan terus melakukan pembenahan di era reformasi seperti dalam hal pembangunan Fisik dan non fisik, ekonomi, sosial maupun budaya.

BAB VI
Banjir di Lamongan

Enam bulan setelah meletusnya peristiwa G 30 S/PKI, banjir besar melanda Lamongan. Dalam surat kabar Suluh Indonesia, 26 Maret 1996, banjir besar mengamuk di daerah dan kota Babat sejak 17 Maret.

Sepanjang tahun 1950 hingga 2010, 12 tahun di antaranya dipenuhi dengan bencana banjir. Tahun 1966, 1983, 2008 dan 2009 merupakan banjir terbesar di Lamongan.

Bab VII
Kebudayaan Masyarakat Lamongan

Makanan khas Lamongan yang terkenal adalah Soto, juga ada  Tahu Campur, Es Batil dan Nasi Boran. Baca: Mencicipi Nasi Boran di Kota Soto
Selain itu di Lamongan ada jajanan wingko yang terkenal dengan Wingko Babat.

Lamongan juga terdapat tradisi Rukyat Ketilem merupakan tradisi penentuan awal bulan hijriyah, tradisi Petik Laut, Kesenian Kentrung, Tradisi Sesekah Bumi, Seni Tayub, dan Tradisi Pernikahan yaitu pihak perempuan harus melamar dulu ke pihak laki-laki. Adat ini bermula tentang cerita dua putra Bupati Lamongan yang dilamar dua putri Bupati Kediri. Yaitu legenda Panji Laras dan Liris. Baca: Legenda Panji Laras Liris dan Putri Kediri

Tari yang ada di Lamongan, yaitu Tari Boran, Tari Caping Ngancak, Jaranan, dan Seni Jaran Jenggo.

Bab VIII
Perekonomian Lamongan

Di bab terakhir membahas tentang perekonomian Lamongan baik dari Pertanian, Peternakan, Perikanan, Industri maupun perhubungan.


Nah, seperti itulah gambaran yang ada dalan buku SEJARAH LAMONGAN DARI MASA KE MASA.
Buku ini bisa didapatkan di perpustakaan umum Lamongan karena sepertinya masih diterbitkan terbatas.


#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-36

Comments

Post a Comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja