Penyusup Rindu


Aku ingin menemuimu.
Meminta maaf atas nama hujan,
pada gerimis yang turun di kota seberang, kotamu.
Dan juga atas ketidakpercayaan kepada sorot matamu.
Hey, selamat pagi.
Apa kabar kau di sana?
Nyatanya kau masih jadi penyusup saat rintik hujan menjelma butiran rindu.
Dan aku tak bisa enyahkan itu.
Di tempat sejauh ini semuanya terasa kabur dan mustahil kau kudekap.
Mencintaimu ialah kereta api yang berangkat sesuai jadwal,
dan telat membuat semua berantakan.
Kau tahu,
menyaksikan hamparan hujan dari balik jendela kereta adalah kepedihan
dan aku curiga,
kereta ini sengaja diberi jendela sebagai cara mengenang seseorang yang tak pernah bisa diraih.
Hanya sekilas memandang lewat kaca dan terburu-buru pergi.
Menemuimu mungkin menimbulkan luka.
Tapi ingatan tentangmu berpijar dalam hati buatku berharap setibanya aku nanti, kau akan berdiri di depan pintu stasiun,
seperti biasa, merentangkan kedua lenganmu
dan membiarkan rindumu terbang bebas.
Mungkinkah itu lagi?

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja