[Review Buku] Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya Karya Lugina W.G. dkk.


Mungkin, wanita memang diciptakan untuk bertahan, sementara pria lebih suka menguji ketabahan. (hlm. 184)
Wanitaku muncul bersama terindranya aroma lembut parfum itu oleh penciumanku. Dia muncul dari dalam diriku.
(hlm. 227)

Kutipan-kutipan di atas saya ambil dari Buku Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya karya Lugina W.G. dkk. Yang merupakan kumpulan cerpen pilihan anak-anak #KampusFiksiEmas 2016
Kumpulan cerpen yang mengangkat hal-hal kecil menjadi suatu cerita yang besar. Tidak heran jika penyair sekelas M. Aan Mansyur juga menikmati cerpen-cerpen di buku ini.

Cerita-cerita pendek di kumpulan ini telah berusaha dengan baik menarik lepas persoalan kecil dari satu dunia besar kemudian menjadikannya jalan masuk baru bagi pembaca untuk kembali ke dunia dari mana cerita itu berasal.
-M. Aan Mansyur, novelis dan penyair

Sebelum saya review lebih lanjut, berikut sinopsis yang ada di cover belakang buku ini.

Judul: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya
Penulis: Lugina W.G. dkk.
Penerbit: Diva Press
Jumlah Halaman: 256

Celia tak pernah mengerti, mengapa Puffin tak bisa berhati-hati. Ia menyenggol perabotan ke mana pun ia pergi; gelas beradu menyentuh lantai.... Prang!
Seingat Celia, dulu Puffin tak pernah bertingkah nakal. Ia manis dan begitu lembut.

Namun, Celia kini sering terpaksa memarahi Puffin. Celia benci melihat pecahan gelas berhamburan. Ia sungguh benci terbangun di malam hari karena bunyi gelas-gelas bertumbukan.
Bermalam-malam ia dihantui mimpi pecahan kaca yang mengejarnya seperti gerombolan lebah.
Menyengat dan menancap di kepalanya seperti mahkota.
Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya
(Lugina W.G)

Review Buku Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya

Buku ini berisi cerita-cerita pendek pilihan dari alumni kampus fiksi. Yang diberi sebutan #KampusFiksiEmas2016
Saat itu bertepatan dengan ulang tahun alumni Kampus Fiksi yang ketiga tahun 2016.
Kampus Fiksi sendiri merupakan pelatihan menulis fiksi yang diadakan sebulan sekali selama 2 hari per angkatan di Yogyakarta. Seluruh peserta yang terpilih hanya perlu datang ke Jogja untuk pelatihan, semua biaya akomodasi (sudah termasuk jalan-jalan) ditanggung pihak penerbit, yaitu Divapress. Kecuali tiket dari kota asal ke Jogja ditanggung sendiri. Selain itu, selesai pelatihan, peserta akan mendapatkan bingkisan 50 buku, sertifikat dan juga ilmu.
Dan buku yang sedang saya review ini salah satu bingkisan dari pelatihan Kampus Fiksi yang saya ikuti di tahun 2017.

Buku karya Lugina W.G. dkk ini bertema tentang musik, film dan parfum.
Dalam buku ini terdapat tiga belas cerita pendek yang idenya diramu dengan baik.

Cerita pertama berjudul "Wajah-wajah dalam Kaset Pita" karya Gin Teguh menceritakan tentang seorang yang mengalami Prosophenosia. Karena hal itu dia menggunakan musik sebagai pengingat wajah-wajah orang-orang yang dicintainya. Cerita ini mengajarkan bahwa walaupun berbeda, kita harus tetap menyayangi orang yang kita cintai.

"Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan" karya Amaliah Black ini terdapat pesan moral yang bagus. Bahwa anak perempuan harus menjadi contoh yang baik baik dalam hal sikap maupun bertutur kata. Dan juga membahas soal musik.

"Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan" karya Evi Sri Rezeki bercerita tentang  seorang lelaki yang mempunyai aroma seperti kayu gaharu. Yang mencintai seorang wanita beraroma mawar.

"Black Butterfly" karya Sugianto ini tentang seorang yang menyukai penyanyi Charlotte Odengard dan ditentang oleh ayahnya karena musik yang dibawakan tersebut bisa membawa kesesatan pada pendengarnya.

Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya karya Lugina W.G. dijadikan judul dalam buku ini dan merupakan cerpen favorit. Menceritakan tentang gadis kecil yang lugu tapi menyedihkan  akibat kesalahan orang tuanya.
Pesannya sangat bagus yaitu seharusnya orang tua memberi contoh yang baik untuk anak-anaknya.

Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap "Seandainya" di Mulutnya karya Eva Sri Rahayu tentang dendam dalam hati yang timbul karena marah yang dipendam.

"Le Nozza di Figaro" karya Sayfullan ini membuat imajinasi saya berkeliaran ke jaman Belanda. Karena latar belakang cerita ini adalah jaman Belanda dulu. Yang membahas masalah cinta lewat pertunjukan Opera.

"Goodbye" karya Ghyna Amanda menceritakan tentang masa lalu. Jadi si tokoh menelusuri masa lalu pamannya yang mencintai musik rock.

"Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini" karya Frida Kurniawan merupakan cerpen yang membahas betapa bobroknya bangsa. Tentang kejujuran.

"Cintalah yang Membuat Diri Betah untuk Sesekali Bertahan" karya Puput Palipuring Tyas menjadi cerita favorit saya. Tentang cinta tulus dan kesetiaan. Terdapat pesan bahwa dalam hidup kita harus memutuskan langkah apa yang harus diambil

"Psikadelia" karya Farrahnanda membuat saya bingung dengan istilah Psikadelia. Tapi setelah mencari informasi ternyata Psikadelia itu seperti aliran musik yang bisa membuat pendengarnya berhalusinasi.

"Yang Menunggu di Dalam Cermin" karya Erin Cipta merupakan cerpen yang membuat saya penasaran siapa sebenarnya gadis yang ditunggu. Dan ternyata ini tentang hal gender.

"Kisah yang Tak Perlu Dipercaya" karya Reni FZ ini benar-benar membuat saya tak percaya.
Berlatar Eropa yang membuat saya ingin pergi ke sana. Tentang lelaki dan wanita yang berjanji akan bertemu kembali tapi ternyata sang lelaki datang dengan paras lain.

Secara garis besar saya sangat terhanyut dalam kisah-kisah di dalam buku tersebut. Setiap idenya diolah dengan matang. Tapi ada beberapa cerpen yabg harus saya baca berulang-ulang karena tidak paham apa maksud cerita tersebut.

Jika selama ini mendengarkan musik, menonton film, atau menghirup aroma parfum menjadi pilihan untuk memperbaiki mood, coba tambahkan kumpulan cerpen #KampusFiksiEmas2016 ini.


#Tantangan ke-3
#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-18

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja