Posts

Showing posts from March, 2018

Lelaki Berkumis Tipis dan Keranjang Merahnya

Image

Reading Challenge: Usai Taklukan MR Kini Ditantang HR

Image
Akhirnya aku lulus juga setelah beberapa periode aku ngendok di Middle Reader (MR). Dan kini aku masuk kelas selanjutnya, yaitu High Reader (HR). Yang jelas ini pasti lebih horror dari MR.

Di kelas MR target membaca tiap hari minimal 15 halaman selama 40 hari. Dan ada tantangan tiap pekan membaca buku dengan tema yang ditentukan. Misal buku sejarah, biografi, buku peraih nobel sastra, politik dan lain-lainnya.

Ada banyak suka dan duka saat berada di kelas MR. Duka pertama, buku yang ditentukan tidak ada di rumah berarti harus ke perpustakaan atau pinjam tetangga sebelah. Kalau benar-benar tidak bisa keluar rumah, cara lain yaitu cari ebook terkait tema tersebut. Dan ini menjadi duka kedua. Kenapa? Karena tidak mudah membaca ebook di handphone. Mata cepat lelah dan pusing. Ini terjadi padaku saat harus membaca buku peraih nobel sastra. Aku hanya punya ebook Orhan Pamuk. Mau tidak mau aku harus baca. Yang bikin ngenes adalah jumlah halamannya kurang lebih 600 halaman. Itu benar-benar b…

Merkurius, Sebuah Keluarga Penuh Inspirasi

Image
Jarak boleh saja membentang
Waktu boleh saja berlalu
Tapi teman tetaplah teman
Yang akan selalu dikenang
(Fitri Areta)

Gak terasa banget program One Day One Post (ODOP) batch 5 telah berakhir. 9 minggu kami lalui dengan segala suka dan duka. Hemm, tapi kebanyakan sukanya sih. Suka dapat ilmu baru, teman sekaligus keluarga baru tapi dukanya pas lagi mumet cari ide tulisan. Apalagi tiap minggu diberi tantangan menulis. Yang paling membuatku mumet saat tantangan cerbung. Meskipun tema bebas tapi cari idenya byuh memerlukan semedi di bawah pohon CiplukanšŸ˜‚

Selain posting tulisan setiap hari, kegiatan ngODOP ini juga ada kelas online yang digunakan untuk sharing materi serta beda tulisan. Nah, kelas online ini dibagi lagi menjadi grup kecil. Nama grupnya diambil dari nama planet-planet. Dan aku kebetulan dijebloskan ke dalam Merkurius. Merkurius itu planet terdekat matahari. Pasti panas kan ya? Lalu apa grup Merkurius ini dalamnya juga sama panasnya?

Ternyata masuk di Merkurius sangat adem ay…

RASA: Rasa Takut

"Ay, lo lihat gak cowok yang di seberang jalan itu? Dari tadi lihatin lo terus." Rahmi berulang kali melirik ke seberang jalan. Dia merasa ada yang tidak beres

Tapi Ayla malah asyik makan baksonya tanpa menghiraukan Rahmi.

"Ayla...!" Rahmi mulai ketakutan.

"Kenapa sih, Mi. Paling perasaan kamu saja. Atau tuh orang pengen bakso yang kita makan ini. Ayo lanjut makannya. Ntr keburu dingin lo," Setelah bicara Ayla diam-diam mencuri pandang ke arah seberang jalan. Dia penasaran apa benar orang itu sejak tadi memperhatikannya. Ayla menajamkan matanya dan langsung tersedak saat tahu siapa yang dari tadi melihatnya dari kejauhan.

Ayla terbatuk-batuk dan segera mengambil minumnya. Kerongkongannya terasa panas. Tapi dia kemudian berbisik ke arah Rahmi dengan sedikit ketakutan.

"Mi, cowok yang kata lo melihat ke sini terus itu Bastian. Teman SMA kakak gue. Lo inget kan? Yang dulu gue pernah ceritain."

Rahmi langsung mengalihkan wajahnya ke arah Bastian. I…

Sebuah Surat Untuk Matahariku

Dear Matahariku,

Suamiku, sebelum menjemput pagi aku selalu berdoa agar ketika aku membuka mata, kamulah orang pertama yang aku lihat. Aku hanya ingin kamu tetap di sini, tinggal di hati. Sampai Tuhan yang akan mengakhiri. Bukankah kita telah berjanji agar selalu beriringan kecuali Tuhan yang akan memisahkan.
Aku terkadang merasa takut jika ada bayangan wanita lain saat ku menatap matamu. Saat kamu merindukan wanita lain selain aku, istrimu. Entah itu wanita yang selalu kau temui di kantor tempat kerjamu atau wanita masa lalumu. Bukannya aku tak percaya, aku bahkan mencintaimu dengan apa adanya dirimu tak terkecuali masa lalumu tapi bukan berarti aku tak cemburu. Aku hanya manusia biasa yang tak sempurna. Aku terlalu meletakan semua harapan indahku kepadamu. Padahal berkali-kali kamu selalu bilang kalau semua harapan jangan letakkan pada manusia tapi pada Tuhan. Maaf jika aku terlalu mencintaimu hingga aku tak mengindahkan hal itu. Aku akan selalu memelukmu hingga kamu tak menghawati…

Ketika Jarak Membentangkan Rindu

Image
Aku di sini
Kamu di sana
Kita menunggu
Lalu bertemu,
Sekedar bertegur
Kemudian berlalu


Setelah itu jarak membentang
Membiarkan sajak berterus terang
Membiarkan kita tak saling menunggu
Karena pada akhirnya rindu akan kembali menyapu


Lalu aku dan kamu
Hanya bisa mengucap nama di setiap doa
Di penghujung waktu
Berharap aku dan kamu akan menyatu
#Onedayonepost #ODOPbatch5 #ODOPharike-53

RASA: Sahabat Tapi Cinta

"Kenapa kamu ngajak aku nonton? Pacar kamu gak marah?" Andini bertanya pada Satya yang tengah sibuk memilih film apa yang bagus untuk ditonton.

"Pacar? Siapa juga yang mau sama cowok kayak aku," Satya menjawab sekenanya.

"Trus cewek yang pergi sama kamu ke toko kemarin bukan pacarmu?" Andini tak berhenti bertanya. Dia ingin tahu ada hubungan apa Satya dengan gadis itu.

"Oh, Ayla? Dia teman satu fakultasku. Emm, sebenarnya sih aku suka sama dia. Tapi kayaknya dia gak peka akan hal itu." Satya menjawab dengan jujur. Bagi Satya, Andini adalah sahabat kecilnya yang mengerti semua dirinya. Makanya dia tidak segan-segan jujur atas perasaannya untuk Ayla.

Andini mematung. Ada perasaan sakit menghujam dadanya. Satya ada perasaan dengan gadis lain. Berarti tidak ada kesempatan baginya untuk jadi kekasih Satya. Andini benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Tepat di palung hatinya.

"Kenapa diam? Bagaimana menurut kamu, Din. Ayla orangnya gimana…

RASA: Pertengkaran

Arga berusaha tenang. Beberapa menit lagi dia akan bertemu Bintang untuk kedua kalinya. Arga tahu bahwa hatinya berkecamuk. Dadanya berdenyut-denyut kencang. Rasa yang ditujukan untuk Bintang tetap sama seperti saat masa SMA. Arga benar-benar tak bisa melupakan Bintang. Selama ini, sepulang dari Australia, Arga tidak banyak bicara, terlalu cuek dengan orang lain. Tapi entah mengapa hal itu tidak berlaku jika bersama Bintang.

Arga melirik jam tangannya. Pasti Bintang sudah keluar dari kantornya. Mereka janjian untuk makan siang di tempat mereka kemarin bertemu.

Sesaat Bintang datang dengan senyum cerianya. Rambutnya hitam panjang dibiarkannya tergerai lurus. Menambah pesona kecantikannya.

"Hai, sudah lama nunggu ya?" Bintang menegur Arga yang terlihat bengong.

"Eh, gak kok." Arga mencoba biasa saja.

Belum lama mereka ngobrol dan makanan belum tersaji, tiba-tiba Bastian datang dengan marah.

"Bintang, ngapain kamu di sini?!" Bastian menatap tajam ke arah Bi…

RASA: Gadis Sok Jagoan

Ayla mondar mandir di tengah taman. Dia menunggu kedatangan Fadhil, mantan pacarnya. Emosi Ayla benar-benar berada di puncak. Pasalnya sepulang mendaki kemarin, dia menemukan Fadhil tengah ngobrol sama mamanya. Ngobrol seperti biasa seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja. Memang Ayla belum sempat bicara sama mamanya tentang hubungannya dengan Fadhil. Bahwa hubungan mereka sudah berakhir.
Yang membuat Ayla marah bukan karena Fadhil tiba-tiba ke rumahnya tapi tujuannya. Fadhil menemui mamanya untuk melamar dirinya.
Ayla benar-benar tak habis pikir, apa yang diinginkan Fadhil.

Setelah limabelas menit menunggu, akhirnya Fadhil datang juga. Ayla langsung saja meluapkan emosinya.

"Maksud lo apa sih, Dhil? Elo tahu kan bahwa gue sudah gak mau lagi melanjutkan hubungan kita." Ayla marah di hadapan Fadhil.

"Gue bisa jelasin, Ay. Beri gue satu kesempatan lagi. Gue akan lamar lo. Ini bukti bahwa gue serius sama lo," Fadhil berusaha membujuk Ayla.

"Enggak, Dhil. Hubu…

RASA: Andini

Satya hari ini benar-benar ingin di rumah saja. Selain lelah sisa mendaki, kuliahnya juga tidak ada kelas. Dia ingin menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca buku. Hoby yang sudah melekat sejak dia masih SD.

Satya mencoba mencari buku dalam rak yang belum ia baca. Tapi dia tiba-tiba teringat buku sejarah yang baru saja dibelinya kemarin. Satya ingat buku itu pasti masih ada dalam tasnya. Buku Sejarah Orang Bugis itu benar masih tinggal dalam tasnya lengkap dengan plastik yang membungkusnya.

Satya menyobek plastiknya dan duduk di atas kasurnya. Mencari tempat senyaman mungkin untuk membaca. Baru membuka halaman, tiba-tiba selembar kertas jatuh di pangkuannya. Lembaran itu terselip di belakang buku itu.

Awalnya Satya mengira itu hanya pembatas buku tapi dia mulai penasaran saat matanya menangkap gambar di lembaran tersebut. Satya menyadari bahwa itu bukan sekedar pembatas buku tapi itu sebuah foto. Diambilnya foto itu dan dia terperangah kaget. Yang ada dalam foto itu adalah dirin…

RASA: Sinyal Cinta

"Gue benar-benar lelah, Sat." Ayla langsung selonjoran di bawah pohon. Membuka botol minumnya dan meneguk sebagian isinya. Napasnya memburu tak teratur.

"Lo sih maksa. Kan sudah gue bilangin dari awal kalau naik gunung itu gak kayak ke mall kalau mau ke atas bisa pakai lift," Satya mengawasi muka Ayla yang penuh dengan peluh keringat. Ada rasa khawatir yang menyusup dirinya. Takut Ayla kenapa-kenapa.

"Sudah tahu kali, Sat. Sejak kapan juga gunung ada liftnya. Gue hanya butuh istirahat bentar kok." Ayla kembali meneguk air di botolnya. Sepertinya dia benar-benar kehausan.

"Sok kuat lo, Ay. Awas saja kalau tiba-tiba lo ambruk. Gak bakalan gue gendong lo!"

"Idih, jangan ngarep deh. Siapa juga yang minta gendong lo. Mendingan juga minta gendong Dion." Ayla berusaha berdiri, karena dia sudah merasa kuat untuk melanjutkan perjalanan.

"Haha.... Yang ada kayak gajah gendong anak semut," Satya tertawa membayangkan bagaimana Dion yang…

RASA: Teman Masa Kecil

Andini berulangkali menengok ke arah pintu tokonya. Berharap lelaki yang diharapkannya datang lagi. Tapi sampai hari beranjak sore, lelaki itu tak muncul.

Andini yakin sekali bahwa lelaki bermata coklat yang mampir ke toko bukunya dua hari yang lalu adalah Satya. Teman masa kecilnya. Tapi Andini mulai ragu saat Satya tak mengenali dirinya.

Andini mengambil foto dari laci mejanya, tampak dua orang bocah duduk berdua di pematang sawah. Seketika senyum Andini mengembang.

"Satya, tunggu dong. Gak sabaran banget sih jadi orang. Berat nih! Ayla menurunkan tas besar di punggungnya. Sore ini mereka berencana berangkat untuk naik gunung. Harusnya mereka berkumpul di depan kampus, tapi Satya malah mengajaknya ke toko buku.

Satya tidak menggubris omelan Ayla. Satya malah tertawa melihat Ayla yang kelelahan karena berjalan dengan bawa tas besar. Gak tau kenapa Satya merasakan getaran aneh saat di dekat Ayla. Satya mencoba mengalihkan getaran itu dengan menggoda Ayla.

Dan di dalam toko buku,…

RASA: Cinta Lama Datang

Bintang mempercepat langkahnya. Lima belas menit lagi sudah pukul delapan. Dia takut terlambat untuk meeting. Terlambat berarti mengecewakan kliennya bahkan bisa memutus kerjasama yang belum sempat dijalin.
Tak lama kemudian, Bintang masuk ke sebuah restoran. Dia baru akan duduk, ketika tiba-tiba namanya dipanggil oleh seseorang dari belakang. Bintang menoleh dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia kenal dengan suara itu. Bintang yakin dia tidak sedang bermimpi. Seorang lelaki menghampirinya.

“Bintang, kan? Aku yakin. Dari belakang pun aku masih dapat mengenali kamu” ujar lelaki itu lalu mengulurkan tangannya. "Apa kabar?"

"Arga…” hanya itu yang dapat dikatakan Bintang. Dadanya berdenyar-denyar. Dan mulai berdegup kencang. Sebisanya diredam gejolak emosinya, dia tidak ingin Arga melihat perubahan wajahnya.

“Ah, kamu pasti bingung kenapa tiba-tiba aku di sini. Aku ….”

“Kudengar kamu ke Australia setelah lulus SMA,” sela Bintang cepat-cepat. Dia maaih belum bisa mengua…

RASA - Sebentuk Sayang

"Ay, gue cinta sama lo!"

Ucapan Satya membuat Ayla berhenti melangkah.

"Lo nembak gue, Sat?" Ayla tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Menurut lo?!" Satya memandang Ayla sambil cengar-cengir.

"Astaga, Sat! Lo nembak gue di depan pintu perpustakaan gini?"

"Ada yang salah?" Satya tersenyum jahil.

"Gak romantis banget!"

"Kan percobaan," jawab Satya seenaknya.

"Maksudnya? Lo gak lagi ngerjain gue kan, Sat?" Dan paras Ayla memerah saat sadar kalau Satya hanya bercanda.

Dan Satya cuma mengedipkan satu matanya dan berlalu masuk ke dalam perpustakaan. Ayla gak terima dengan perlakuan Satya memburu Satya ke dalam.

"Satyaa........Lo itu jahat ya!!!"

Husssttttt!!!

Ayla langsung diam karena semua mahasiswa yang ada di ruangan perpustakaan menatap ke arahnya dengan pandangan marah.

"Maaf." Ayla minta maaf sambil tersenyum menahan malu.

Satya cekikikan di sudut rak buku Sastra saat melihat ting…

RASA - Sahabat Bagai Madu

"Kenapa lo, Ay? Mendung banget muka lo?!" Sambar Rian saat Ayla duduk di sebelahnya.

"Lagi PMS mungkin. Awas jangan deket-deket. Anjing galak suka gigit loh!" Dion menimpali.

"Haha....paling juga cowoknya kesamber mojang Bandung. Kan cantik-cantik tuh?!" Kali ini Melky yang menyahut.

"Kalian bisa diem gak sih!!!!?" Ayla buka suara dengan judesnya.

"Idih...si Nyonya lagi marah. Suka marah cepat tua loh," Melky kembali berseloroh.

Ayla tiba-tiba menangis keras membuat ketiga cowok itu kebingungan.

"Ay, lo kenapa sih. Gak biasanya kayak gini. Sudah...cup..cup...jangan nangis, entar kedengeran anak sekampus berabe kita. Dikira kita ngapa-ngapain lo!" Dion berusaha menenangkan Ayla yang tangisnya makin menjadi.

"Paling juga elo, Yon. Yang dikira apa-apain Ayla. Kita mah anak baik-baik. Iya kan, Rian?" Melky menoleh ke arah Rian.

"Elo tuh sukanya cewek jadi- jadian. Sama Ayla mah elo gak doyan. HAHA...." Rian t…

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics