Ini Alasan Mengapa Banyak Penjual Soto dan Pecel Lele Lamongan di daerah lain


Menjawab pertanyaan Mbak Nurul di blog kemarin tentang kenapa sih Soto Lamongan terkenal banget dan pecel lele Lamongan bisa tersebar di seluruh nusantara?

Nah, saya akan memberikan jawaban terkait pertanyaan tersebut yang dilansir dari buku Sejarah Lamongan dari Masa ke Masa karya Sarkawi B. Husain dkk.

Di luar Lamongan, tentu kita banyak sekali menjumpai nama makanan yang dijual dengan embel-embel Lamongan. Misal yang terkenal Soto Ayam Lamongan atau Pecel Lele Lamongan. Sebenarnya ada lagi makanan khas Lamongan yang dijual di luar kota Lamongan seperti Nasi Goreng dan Tahu Campur.

Lalu bagaimana sih kok bisa tersebar di kota-kota lain? Bahkan sampai ke provinsi-provinsi yang ada di Indonesia? Yuk, simak penjelasannya!

Awal mulanya terjadi pasca peristiwa G30S, penduduk Lamongan terdorong meninggalkan desanya karena merasa tidak aman. Ancaman Penculikan dan pembunuhan yang tersiar luas di desa-desa Lamongan. Akhirnya mereka memutuskan untuk merantau. Dan tujuan mereka adalah Jakarta. Di sana mereka berjualan soto, yang pada saat itu masih bernama Soto Surabaya. Karena mereka belum percaya diri menggunakan nama Soto Lamongan.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, paling besar kedatangan orang Lamongan ke Jakarta. Sebelum membuka warung soto sendiri untuk berjualan, mereka biasanya magang dulu di warung milik saudara atau temannya yang telah mengajaknya merantau ke Jakarta.
Selain di Jakarta, orang Lamongan juga merantau ke Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Garut, Ternate, Timika dan Jayapura.
Seiring berkembangnya jaman, mereka tidak hanya berjualan Soto Ayam Lamongan tapi beraneka ragam, di antaranya adalah tahu campur, pecel lele, aneka ragam penyetan, tahu campur dan juga nasi goreng.
Sebagian besar mereka berjualan sebagai pedagang kaki lima yang warungnya berupa tenda di sebelah trotoar maupun pinggir jalan.
Adapun usia perantau Lamongan mulai usia di bawah 20 tahun hingga lebih dari tiga puluh tahun.

Alasan penduduk Lamongan merantau ke kota besar juga dikarenakan kondisi georafis Lamongan yang sebagian terdiri atas pegunungan kapur serta melambatnya pertumbuhan ekonomi Lamongan. Hal ini dikarenakan Lamongan bukan pusat industri. Karena belum banyaknya industri yang berkembang di Lamongan, penduduk Lamongan memilih untuk bekerja sebagai nelayan, petani, dan pegawai negeri. Tapi bagi penduduk yang tidak mempunyai lahan pertanian dan tambak mencoba merantau ke luar Lamongan. Salah satunya dengan berjual makanan dan menjadi pedagang kaki lima.

Pedagang kaki lima inipun dikelompokkan menjadi lima kelompong pedagang, yaitu:

1. Kelompok penjual Pecel Lele Lamongan
Kelompok ini tidak hanya menjual lele tapi di dalamnya juga menjual bebek goreng, ayam goreng, serta tahu dan tempe goreng.  Sebagian besar penjual pecel lele berasal dari Kecamatan Laren dan Sukodadi.

2. Kelompok pedagang sea food atau aneka masakan yang berasal dari laut atau tambak
Pedagang dalam kelompong ini menyediakan masakan seperti kepiting asam manis, ikan bakar, dan goreng seperti ikan Dorang, Gurami dan Nila.
Pedagang ini tersebar di kota-kota besar di Jawa. Kalau di Surabaya paling banyak dijumpai di area Jalan Kedung Doro dan Pasar Kembang. Kalau di Yogyakarta bisa dijumpai di area jalan Selokan Mataram dan Kali Urang km 5 (dekat Universitas Gadjah Mada). Selain itu di Jakarta, dan beberapa kota di Sulawesi dan Kalimantan. Namun terkadang mereka tidak mencatumkan nama sea food Lamongan.
Mayoritas penjual sea food ini berasal dari Kecamatan Pucuk, Laren, Maduran serta sebagian kecil Sukodadi.

3. Kelompok pedagang tahu campur
Kelompok ini paling banyak dijumpai di Surabaya. Dan kebanyakan pedagang menjajakan tahu campur dengan keliling kampung. Pedagang tahu campur ini rata-rata berasal dari Kecamatan Deket.
Meskipun Lamongan dijuluki sebagai Kota Tahu Campur, tapi jarang dijumpai. Yang banyak dijumpai adalah pedagang soto ayam.

"Tahu campur rek saka Lamongan
Ange-anget enak rasane
Cambah tahune gimbal daginge
Krupuk sawi kecap iku maceme..."

Itu tadi sedikit lirik lagu tahu campur.

4. Kelompok pedagang nasi goreng
Selain menjual nasi goreng juga menjual mie goreng, mie kuah, bihun goreng dan nasi sayur.
Kekhasan nasi goreng Lamongan ini terletak pasa bumbunya. Kebanyakan penjualnya berasal dari Kecamatan Glagah dan Deket.

5. Kelompok pedagang Soto Ayam Lamongan
Kalau yang satu ini makanan yang sangat populer. Karena selain cita rasa juga banyak sekali penduduk Lamongan yang jualan soto. Bahkan di Surabaya ada warung Soto Lamongan yang terkenal adalah warung Soto Lamongan Cak Har dan Soto Ayam Pak Sadi.
Penjual soto ini kebanyakan berasal dari Kecamatan Deket dan Glagah.

Dari tadi bahas makanan saya jadi lapar. Hehe...
Oh iya, orang Lamongan yang merantau ke kota-kota lain membentuk perkumpulan Arek Lamongan Jaya dan Putra Asli Lamongan serta ada juga loh perkampungan yang dihuni orang-orang Lamongan. Misal salah satu perkampungan di Jakarta yang dihuni orang-orang Lamongan adalah sekitar Pasar Kebayoran Lama, Kebon Sirih, Pasar Minggu, Grogol, dan Cempaka Putih.

Jadi jangan heran ya kalau di mana-mana ada makanan dengan label Lamongan. Kalau kalian suka makanan khas Lamongan, sekali-kali luangkan waktu mengunjungi kota Lamongan. Makan makanan khas Lamongan lebih mantap kalau langsung di kota asalnya.

Lamongan memang Megilan👍

Di postingan berikutnya saya akan membahas tagline Lamongan "Megilan". Ikuti terus ya blog saya...#halah promosi😂😂


#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-39

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja