RASA: Sinyal Cinta

"Gue benar-benar lelah, Sat." Ayla langsung selonjoran di bawah pohon. Membuka botol minumnya dan meneguk sebagian isinya. Napasnya memburu tak teratur.

"Lo sih maksa. Kan sudah gue bilangin dari awal kalau naik gunung itu gak kayak ke mall kalau mau ke atas bisa pakai lift," Satya mengawasi muka Ayla yang penuh dengan peluh keringat. Ada rasa khawatir yang menyusup dirinya. Takut Ayla kenapa-kenapa.

"Sudah tahu kali, Sat. Sejak kapan juga gunung ada liftnya. Gue hanya butuh istirahat bentar kok." Ayla kembali meneguk air di botolnya. Sepertinya dia benar-benar kehausan.

"Sok kuat lo, Ay. Awas saja kalau tiba-tiba lo ambruk. Gak bakalan gue gendong lo!"

"Idih, jangan ngarep deh. Siapa juga yang minta gendong lo. Mendingan juga minta gendong Dion." Ayla berusaha berdiri, karena dia sudah merasa kuat untuk melanjutkan perjalanan.

"Haha.... Yang ada kayak gajah gendong anak semut," Satya tertawa membayangkan bagaimana Dion yang bertubuh gemuk itu menggendong Ayla, gadis imut yang mempunyai tinggi 155 cm.

"Sudah selesai ketawanya?"

Satya seketika menghentikan tawanya ketika melihat mata Alya melotot padanya.

"Sudah," jawab Satya sambil menahan tawanya.

Mereka mulai bergabung dengan rombongan tepat jam 10 malem. Sampai di pos 2, Ayla sudah merasa kedinginan. Jam sudah menunjukan waktu 11 malam.

Satya dibantu Melky mendirikan tenda untuk Ayla dan teman-teman cewek lainnya. Ada 4 orang cewek termasuk Ayla. Sedangkan yang cowok ada 8 orang.
Setelah semua tenda didirikan, Ayla langsung masuk tenda dan tidur untuk melepaskan penatnya. Istirahat untuk perjalanan esok harinya.

Setelah jam 2 pagi, semua pada siap-siap untuk menuju puncak merbabu. Tapi pas berangkat di tengah perjalanan tiba-tiba hujan sangat lebat.

"Kita mendirikan tenda saja di sini. Sambil menunggu hujan reda." Satya yang merupakan ketua rombongan mengusulkan untuk berteduh di dalam tenda.

Baru saja tenda berdiri, tiba-tiba Ayla ambruk. Lita ketua rombongan cewek memanggil Satya untuk menolongnya karena saat itu Satya sibuk mendirikan tenda dengan cowok yang lainnya.

Melihat Ayla pingsan, Satya buru-buru menggendongnya dan masuk ke dalam tenda. Ternyata Ayla terserang Hiportemia. Saat sadar, Ayla tetal menggigil kedinginan. Satya memeluknya dengan hangat, dia tidak ingin Ayla sakit. Satya benar-benar sangat khawatir. Sepanjang pagi, Satya menemani Ayla.

Saat hujan reda, mereka melanjutkan perjalanan ke puncak. Satya tidak ingin ke atas, dia ingin menjaga Ayla. Tapi Ayla keras kepala, dia ingin ikut naik ke atas.

"Gue sudah tidak apa-apa,Sat. Gue kuat kok," Ayla menampakkan senyumnya ke Satya

"Lo tuh keras kepala banget sih. Kalau lo ambruk lagi gimana. Gue khawatir sama lo, Ay,"

"Gue baik-baik saja, Sat. Percaya deh"

Satya tiba-tiba memeluk Ayla. "Janji kamu gak akan kenapa-kenapa ya, Ay. Aku gak sanggup lihat kamu sakit."

Perkataan Satya membuat Ayla membeku. Sejak kapan Satya bicara menggunakan aku dan kamu.

(Bersambung)

#Onedayonepost
#ODOPbatch5
#ODOPharike-48
#Tantangan VII & VIII

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja