Review Novel 1998: Tragedi Orang Hilang Pada Masa 1998


"Mama tidak pernah suka kalau memergoki aku membaca buku itu karena buku Pramoedya dilarang beredar oleh pemerintah. Mama selalu bilang, “Itu buku komunis! Berbahaya kalau orang-orang tahu kamu baca buku itu, nduk.” (Halm. 4)

Kalimat di atas merupakan salah satu kutipan dalam novel 1998. Bisa dibayangkan bagaimana situasi pemerintahan pada tahun 1998 dalam novel tersebut. Membaca buku pun ada aturan dan larangannya. Novel 1998 adalah novel yang menggunakan setting waktu era pra-reformasi.

Nah, sebelum saya bahas review nya, berikut sinopsis yang ada di bagian belakang novel ini.

Sinopsis Novel 1998

Judul : 1998

Penulis : Ratna Indraswari Ibrahim

ISBN : 978-979-22-8852-0

Jumlah Halaman : 320 Halaman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : September 2012

Putri, anak Walikota Malang yang kuliah di Universitas Brawijaya, tak bisa menghindar dari arus demonstrasi mahasiswa. Kehidupan kampus yang tenang mendadak panas dengan munculnya beberapa mahasiswa membawa poster menuntut Suharto turun. Sebagai generasi a-politik, Putri merasa aneh melihat teman-teman kuliahnya kehilangan kejenakaan dan menjadi idealis. Salah seorang yang menarik perhatian Putri adalah Neno, aktifis kampus, yang sering demo bolak-balik Malang-Jakarta.
Hubungan Putri dan Neno semakin dekat, namun dalam salah satu aksinya Neno dikabarkan hilang! Putri khawatir Neno termasuk daftar orang yang dihilangkan. Ia pun berupaya keras melacak keberadaan kekasihnya itu. Tak kunjung berhasil menemukan Neno, selulus kuliah Putri pun pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah S2.
Dalam sebuah chatting, kabar lengsernya Suharto terdengar oleh Putri. Suharto telah mundur pada 21 Mei 1998. Ia pun memutuskan kembali ke Malang dan menemukan kenyataan bahwa tak seorang pun mau bertanggung jawab atas penculikan mahasiswa. Kemelut politik telah reda, namun Neno yang tak pernah ditemukan menyisakan kemelut tersendiri di hati Putri.
Novel 1998 adalah karya terakhir Ratna Indraswari Ibrahim yang berpulang pada 28 Maret 2011. Tragedi orang hilang pada masa 1998 membuat Ratna mendokumentasikannya dalam bentuk novel. Novel ini bisa dikatakan sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang akan selalu menolak untuk lupa atas tragedi yang disisakan oleh tahun 1998.

Review Novel

Novel 1998 yang berlatar belakang era pra-reformasi ini menceritakan seorang gadis bernama Putri dengan segala kehidupannya. Putri yang merupakan anak walikota Malang, dituntut untuk tidak menjadi mahasiswa aktifis. Tapi ternyata dalam perjalanan hidupnya, Putri mempunyai pacar seorang aktifis bernama Neno. Neno yang telah diketahui menjalin hubungan dengan Kolonel Hadi, akhirnya dihilangkan. Hilangnya Neno, membuat Putri khawatir dan berusaha mencari keberadaan Neno.

"Kau kekasih dari pemuda yang hilang itu?"
Putri  mengedipkan matanya dan menghapus air mata itu. Utriane memeluknya, "kau tahu kekasih ibuku hilang di zaman revolusi tapi dia kemudian menikah dengan bapakku yang baik hati." (halm. 283)

Dalam penulisan ceritanya, Ibu Ratna menyuguhkan cerita kota Malang di tahun 1996-1998 yang suram. Alur ceritanya membawa saya menyelusuri jejak-jejak pada masa itu. Tentang demo besar-besaran menuntut Pak Soeharto turun, pelarangan membaca buku yang tidak dapat ijin dari pemerintah, terancamnya karier pejabat bahkan penculikan dan pembunuhan.
Namun, menurut saya sudut pandang dalam novel 1998 ini berbeda-beda tanpa keterangan. Dan itu membuat saya bingung. Karena tiba-tiba saja ganti sudut pandang.

Tapi dalam novel ini saya jadi banyak belajar tentang politik serta sejarah yang sebelumnya belum pernah saya ketahui.

Jika kalian ingin tahu seperti apa kondisi pemerintah tahun 1998, bisa baca novel ini!

Comments

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja