Jalan-jalan ke Waduk Pridjetan, Waduk Tertua Di Lamongan


Hayoo siapa yang pernah main ke Waduk Pridjetan, Kecamatan Kedungpring? Kalau saya sih baru sekali itu pun karena penasaran sama cerita ibu mertua. Katanya di sana pemandangannya bagus, udaranya juga bersih. Waduk Pridjetan ini lebih dikenal masyarakat sekitar sebagai Waduk Krekah. Dan tahukah teman-teman, Waduk Pridjetan atau Krekah pada tahun 2018 kemarin dapat kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda. Kunjungan ini untuk berziarah ke makam leluhurnya di Waduk Pridjetan. Nah, saya jadi semakin penasaran dengan Waduk Pridjetan.

Alhasil, saya minta pada suami buat diantar ke sana. Hari Minggu kemarin tepat jam setengah tujuh pagi, saya dan suami akhirnya pergi jalan-jalan ke Waduk Pridjetan. Tempatnya lumayan dekat dengan rumah tapi akses jalannya sedikit sulit karena jalanannya tidak beraspal semua dan melewati perkampungan, sawah bahkan bambu-bambu atau Pring.
Meskipun begitu, udaranya sejuk banget. Ditambah selama perjalanan suami cerita tentang masa kecilnya di sepanjang jalan yang kami lewati kalau dulu sering bersepeda atau ngontel ke Waduk Pridjetan. 
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dengan naik motor, kami tiba di Waduk Pridjetan.
Ternyata benar udaranya sangat sejuk. Suara angin terdengar merdu dipadukan deburan air waduk. Selain itu dari kejauhan terlihat gunung. Wahhh pemandangan yang benar-benar indah.


Waduk Prijetan atau Waduk Krekah ini  merupakan salah satu waduk tertua yang ada di Indonesia loh. Dan waduk ini letaknya ada di Desa Tenggerejo dan Desa Mlati, Kecamatan Kedungpring. Lalu apa hubungannya dengan Menlu Belanda berziarah yang saya ceritakan tadi?
Ternyata, eh ternyata dulu pada zaman kolonial belanda, rakyat Indonesia disuruh untuk membuat sebuah waduk yang berukuran kurang lebih 50 Ha yang melewati dusun jatenan hingga dusun Kayen kecamatan Ngimbang. Dan insinyur dalam pembangunan waduh ini adalah Kakek Buyut Menlu Belanda, Stephanus Abraham Blok. Insinyur yang makamnya ada di lokasi Waduk Pridjetan adalah JF A Dligoor yang meninggal dunia tahun 1930. 
JF A Dligoor adalah salah satu pelaksana proyek pembangunan Waduk Pridjetan yang mempunyai luas 231 hektare dan memiliki 6 anak sungai. Waduk Pridjetan adalah waduk dari empat bendungan di Indonesia yang usianya sudah di atas 100 tahun. Waduk ini dibangun mulai Belanda mulai tahun 1909 hingga 1916 dan diresmikan pada tahun 1917. Tahun tersebut tertulis di bendungan sebagai "Wadoek Pridjetan 1917". Lebih tua dari Waduk Gondang wisata terkenal di Lamongan. Waduk Gondang sendiri dibangun ada tahun 1976 dan diresmikan tahun 1986.

Kunjungan Menlu Belanda (sumber: Pemkab.lamongan dan TribunJatim)

Untuk makam JF A Dligoor berada tidak jauh dari waduk. Saya hanya melewatinya karena agak takut mendekat. Hanya ada satu makam di sana, yaitu makam JF A Dligoor. Tidak jauh dari makam, ada bangunan yang berfungsi sebagai kantor bendungan Pridjetan.

Kantor Bendungan Pridjetan
Oh iya, karena waktu ke waduk lewat jalan atas, jadi untuk melihat tulisan Wadoek Pridjetan 1917 harus ke bawah dengan melewati banyak anak tangga. Dan ini benar-benar olahraga pagi. Haha.. 
Saya tidak menghitung berapa banyaknya anak tangga. Sebenarnya menghitung tapi pas sampai tengah lupa hitungannya😂
Oke, setelah sampai bawah ternyata aliran airnya deras melewati terowongan bendungan. Pemandangannya bagus dan menyejukkan mata karena banyak pepohonan di sekitar. Sebelum ke bawah tadi, saya dan suami sempat ke jembatan yang ada di waduk dan melihat orang-orang pencari ikan dengan menggunakan perahu.



Setelah puas jalan-jalan, saya dan suami memutuskan untuk melihat langsung perahu-perahu yang digunakan cari ikan. Pas di sana ternyata sudah tidak ada orang mencari ikan. Jadi kami hanya foto-foto dan video. Duduk sejenak sambil menikmati semilir angin pagi.


Jam delapan, saya dan suami memutuskan untuk pulang karena jam 9 ada undangan resepsi. Sebenarnya saya masih betah di situ tapi gak apa-apa nanti suatu hari main ke sana lagi.

Cukup sudah cerita jalan-jalan saya kali ini, tunggu jalan-jalan saya selanjutnya....

Comments

  1. diubah jadi cerpen kayaknya menarik te

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ide bagus mas.. terima kasih sarannya😊😀

      Delete
  2. Potensi wisata sebenarnya, bagus Mbak tempat e, kurang sedikit lagi dikelola, pasti rame hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak potensi wisatanya memang ada. Biasanya lumayan banyak kok mbak orang sekitar yang jalan-jalan ke sana. Sekedar menghirup udara segar saja...

      Delete

Post a Comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja