[Review Buku] Menjelajah Kisah di Antologi Cerpen Pendek MUSON


Kamu ingin jadi penulis, rajin-rajinlah membaca dan menulis.  Tulisanmu tak akan ada kalau kau hanya rajin ikut seminar tanpa pernah menyelesaikan ceritamu. 
(hlm. 22)

Dalam berkomunikasi, asal kau tahu, semua orang bisa merasakan apa yang ada di hati lawan bicaranya. Itu adalah kodrat kita sebagai sesama manusia. Seringkali kita terkecoh oleh penampakan indera kita dan jarang menggunakan hati dalam berkomunikasi.
(hlm. 79)

Kutipan-kutipan di atas adalah kutipan yang saya ambil dari Buku Antologi Cerita Pendek Muson karya Agus Buchori. Yang merupakan kumpulan cerpen yang ditulis sepanjang karier menulisnya hingga sekarang. Kumpulan cerpen yang mengangkat hal-hal kecil di sekitar yang bagi sebagian orang mungkin receh tapi menjadi penuh makna setelah dituangkan oleh penulis dalam bentuk tulisan.

Sebelum saya review buku lebih lanjut, berikut profil penulisnya.

Agus Buchori merupakan penulis yang aktif dan produktif. Pria domisili di Desa Paciran Lamongan tergabung dalam komunitas Literacy Institute Lamongan. Selain menggiat literasi di Lamongan, beliau juga menggeluti dunia Arsiparis. Kumpulan puisi dan cerpennya diterbitkan oleh perpustakaan umum Lamongan dengan judul Buku, Kopi dan Kamu. Serta menerbitkan antologi berssama komunitasnya, seperti: antologi cerpen Bocah Luar Pagar, Hikayat Daun Jatuh, dan antologi puisi Ini Hari sebuah Mesjid Tumbuh di Kepala.

Review Buku Antologi Cerita Pendek Muson

Judul: Antologi Cerita Pendek Muson
Penulis: Agus Buchori
Penerbit: Boenga Ketjil kerjasama dengan Penerbit Kertasentuh
Jumlah Halaman: 83

Buku karya Agus Buchori ini bertema tentang profesi, cinta, perempuan dan literasi. Dalam buku ini terdapat tiga belas cerita pendek yang idenya diramu dengan baik.

Cerita diawali dengan judul Muson yang dijadikan judul dalam cover buku ini. Mengisahkan tentang kehidupan nelayan yang sangat tergantung pada Muson. Musim muson barat atau angin barat membuat ombak begitu besar membahayakan bagi para nelayan tradisional sehingga seringkali para nelayan berhenti melaut.
Selain itu kisahnya juga menyentil para pengusaha yang dengan seenaknya membabat hutan untuk sumber uangnya.

Rezeki di negeri ini begitu sulit dibagi rata. Ada yang begitu mudah mendapatkannya, seperti pengusaha penghancur hutan itu. Dan seperti aku ini entah bagaimana caranya agar bisa menikmati. Sebagai nelayan kecil dengan pendapatan yang juga kecil, ditmabah daya jangkau kapal yang kecil, itupun milik juragan, apalah dayaku. Tercepit dalam kemiskinan abadi. Mungkin hanya doa dan kesabaran saja yang menghiburku selama ini.

Belah adalah juga cerita tentang kehidupan nelayan. Belah adalah istilah yang dikenal dengan arti pembantu untuk melaut mencari ikan. Sama dengan istilah dalam pertanian, buruh tani.
Dalam cerita Belah dikisahkan secara ringan dan seolah pembaca diajak ikut serta merasakan bagaimana kehidupan di desa nelayan. Tentang pendidikan di sana yang ternyata masih jauh sekali diperhatikan tapi ternyata masih ada pemuda yang tetap bersemangat meraih ilmu.

Kalau tanpa sekolah pun bisa bekerja dan mendapat uang, mengapa harus susah-susah menyekolahkan anak. Sebuah kalimat sakti yang menelurkan remaja putus sekolah.

Rindu Ibu sebuah cerpen yang jelas sudah dapat terbaca dari pertama membaca judulnya. Tapi penulis ahli membuat pembaca seperti saya sendiri menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan si Ibu dalam cerita.
Penyelesaian yang cukup menarik dan mungkin tidak terduga oleh pembaca. Masalahnya sebenarnya sederhana. Yaitu tentang susahnya ekonomi rumah tangga.

Jaga adikmu selama ibu di luar rumah. Kamu adalah anak tertua di rumah ini, mulailah belajar bertanggung jawab, ibu tak akan lama.

Belajar Menulis membaca cerpen yang satu ini membuat saya tersentil. Ceritanya mudah dipahami dan padat akan petuah. Iya tentang sebuah cerita mengikuti seminar kepenulisan dan bertemu dengan berbagai penulis. Ada beberapa pesan yang diambil dari tokoh bernama javed yang diceritakan penulis tentang menulis.

Pokoknya dalam menulis tidak perlu teori, titik.

Kalau tidak mau dikritik ya jangan mempublikasikan tulisan di media massa, beres kan,

Penulis itu punya cara berbeda-beda, dan kewajibanmu adalah menemukan caramu sendiri jangan mengekor orang lain,

Mas Herry siapa penulis Lamongan yang tidak kenal beliau? Cerpen yang ditulis oleh Agus Buchori kali ini bercerita tentang sosok penulis senior Lamongan yaitu Mas Herry. Mas Herry Lamongan atau biasanya saya panggil Pak Herry ini terkenal dengan nama Herry Lamongan. Di buku ini berkisah acara peringatan ulang tahun Mas Herry yang keenam puluh tahun serta testimoni para murid dan sahabat-sahabatnya.

Bagiku, Mas Herry adalah guru menulis yang rendah hati. Meski namanya sudah melanglang buana di jagad sastra, ia masih bergaul dan membimbing kita yang notabene dari desa atau kota kecil di Jawa Timur yaitu Lamongan, kata Syauqi

Dukun Asmara kalau cerpen dengan judul ini pasti pembaca sudah tahu ya arahnya tulisan ini. Tentang dukun asmara yang telah lama menjalani profesinya selama dua puluh tahun. Rumahnya selalu ramai didatangi orang untuk minta bantuannya. Seperti si tokoh aku dalam cerpen ini juga tidak kalah ikut mengantri.
Gaya penulisan Agus Buchori sangat santai dan runtut di setiap kejadian dalam cerita.

Jangan berhenti untuk memberinya, meski perempuan yang kau incar selalu menolaknya,

Caleg Parto cerpen yang menceritakan seseorang yang bernama Parto yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini. Yang mencalonkan menjadi anggota DPR hanya dengan bermodalkan kepercayaan.

Heemmm, lagian siapa yang mau mempercayai Bapak, kan Bapak tidak meyakinkan penampilannya. Paling-paling di dunia ini hanya aku yang percaya kamu, istrinya bersungut-sungut memberi pemahaman.

Perempuan Yang Benci dengan Kaumnya tentang perdebatan seorang perempuan dengan teman lelakinya. Soal emansipasi dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Penulis mengisahkannya dengan penuh menegangkan. Bagaimana pembaca diajak ikut berpikir dan berdebat.

Ya, mulai sekarang kamu jangan sering mengecam kaum laki-laki. Kamu bisa memulainya dengan pembenahan ke dalam, dengan cara meberi masukan-masukan pada kaum perempuan bahwa untuk bisa sukses jangan sekali-sekali menggunakan jurus murahan itu

Mbak Asih hemm.. kalau cerpen berjudul Mbak Asih ini isinya tentang asmara. Penulis sangat piawai dalam memainkan kata-kata. Saya baca cerpen ini seakan ikut terhanyut pada kisah cinta dalam tokoh cerpen ini. Tentang dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Tapi saya kok kesal ya baca kisah ini....haha

Adakah yang lebih menderita dari orang yang sedang dimabuk asmara yang datang tak terduga.

Aku selalu berdoa dan meyakini bahwa kau adalah takdir di ujung waktuku.

Makam Ki Darsono cerita tentang Makam Ki Darsono ini lain dari cerpen-cerpen yang saya baca sebelumnya. Dalam cerpen ini mengisahkan tentang punden atau kuburan dan tradisi desa di kampung nelayan yang ada di pesisir utara Lamongan. Tentang Ki Darsono yang dianggap sesepuh pendiri desa.

Mengenai Ki Darsono ini sebenarnya ada cerita yang cukup membuatku bangga sebagai warga desaku, bahwa sebenarnya ki Darsono yang dianggap sebagai sesepuh pendiri desaku adalah murid Syeh Siti jenar yang mengasingkan diri dari kekuasaan Demak.

Buku, Waktu dan Menunggu cerpen ini lebih bercerita tentang makna buku, waktu dan menunggu. Penulis dengan kreatif menggabungkan ketiga kata tersebut.

Ning, jadilah kutu buku yang rasional. Jangan pernah habiskan waktu dengannya. Harus kau sisakan waktu untuk mengolah yang kau baca menjadi karya, entah apa itu bentuknya realisasikanlah yang masuk ke otakmu dengan sesuatu yang bisa kau bagi dengan orang lain.

Di Pantai Lorena ada yang pernah ke sana? Cerpen ini sebelumnya sudah pernah saya baca. Dan ini kedua kalinya. Mengisahkan tentang dua sejoli yang sedang menjalin asmara. Dengan latar belakang pantai Lorena, penulis sepertinya sengaja mengajak pembaca untuk sekaligus menikmati pemandangan laut yang indah. Dan membaca cerpen ini saya jadi ingin ke Pantai Lorena yang tempatnya ada di pesisir utara Lamongan.

Senja makin lama makin memerah, aku dan kamu masih sama-sama diam menghadap ke Barat. Di ufuk lingkaran keemasan itu hampir tenggelam ditelan lautan.

Cerpen terakhir berjudul Seperti Juliet di Atas Balkon adalah cerpen yang saya suka dari barisan semua cerpen-cerpen yang ditulis penulis dalam buku ini. Kisahnya bukan kisah cinta Romeo dan Juliet yang bernasib tragis.

Jika kamu mau tahu isi hatiku, bacalah juga apa yang diutarakan oleh Juliet saat ia sendiri di atas balkon rumahnya, itulah jawabanku.

Penutup cerita yang keren. Ada yang tahu apa yang dikatakan juliet?

Oh iya, untuk penulisan di bukunya, ada beberapa yang typo dan alenia yang tak beraturan. Sedikit mengganggu sih, tapi tidak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan adalah milik Allah SWT.

Oke. Itu adalah sedikit review atau penggambaran di masing-masing cerpen yang ada dalam buku antologi cerita pendek MUSON karya Agus Buchori. Untuk beli bukunya bisa menghubungi penulisnya di IG/FB Agus Buchori. Cetakkan terbaru penulisannya lebih rapi dan tebal.
Penasaran dengan cerpen lengkapnya? Yuk bisa dipesan.....


Comments

  1. Sudah lama ga baca buku kumpulan cerpen, Fit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya pas senggang lebih suka baca kumpulan cerpen sebenarnya sih mas. Lebih singkat dan bnyak kisahnya mas...hehe

      Delete

Post a comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

statistics

Popular posts from this blog

Omah Oblong, Sentra Kaos Oblong Unik Khas Jogja

Novel Mira W, Novel Jadul Favoritku