"Mbak Fitri, kapan menyusul jadi ibu?"
Aku
tersenyum.
Senyum
yang sudah kupelajari bertahun-tahun. Senyum yang cukup untuk membuat orang
percaya bahwa pertanyaan itu tidak melukai apa pun.
Padahal,
di dalam dada, selalu ada sesuatu yang runtuh setiap kali kalimat itu mampir di
gendang telingaku, ada getar luka yang kulipat rapi dalam hati.
Aku
menggenggam cangkir teh yang mulai kehilangan hangatnya. Di ruang tamu itu,
obrolan masih mengalir. Tentang sekolah anak, biaya susu, jadwal imunisasi,
sampai tingkah lucu balita yang membuat semua orang tertawa.
Aku
ikut tertawa.
Sebab
terkadang, menjadi perempuan dewasa berarti pandai menyembunyikan suara hatinya
sendiri.
Namaku
Fitri.
Aku
bekerja di perpustakaan daerah. Di tempat itu, aku menemukan rumah kedua.
Rak-rak buku selalu mengajarkanku bahwa setiap kehidupan memiliki cerita, dan
setiap cerita memiliki waktunya sendiri untuk mencapai halaman terakhir.
Di
sela pekerjaan, aku menulis buku. Buku anak, buku kuliner, novel. Aku juga
mendongeng untuk anak-anak. Sesekali berdiri di depan banyak orang sebagai
pembicara literasi. Mengajak mereka mencintai kata-kata, karena aku percaya
tulisan mampu menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal.
Orang-orang
mengenalku dari panggung, dari buku yang kutulis dan mungkin dari senyum yang
kubagikan.
Mereka
berkata, "Mbak Fitri keren, pintar, kariernya sukses."
Aku
mengangguk sambil mengucapkan syukur karena memang benar. Tuhan begitu baik
kepadaku. Doa-doaku tentang pekerjaan seperti dijawab satu demi satu. Kesempatan
demi kesempatan datang tanpa pernah benar-benar kuduga.
Namun
ada satu doa yang hingga hari ini masih seperti surat yang belum memperoleh
balasan. Sebuah doa agar suatu hari ada seseorang yang memanggilku,
"Ibu."
Awal
pernikahan kami begitu sederhana.
Kami
sering membayangkan rumah kecil yang ramai oleh langkah kaki mungil.
"Kamu
maunya laki-laki atau perempuan?" tanyanya suatu malam.
"Yang
penting sehat."
Jawaban
klasik.
Tapi
di balik jawaban itu, aku diam-diam sudah membayangkan rambut yang akan kusisir
sebelum sekolah, bekal yang akan kusiapkan setiap pagi, juga dongeng yang akan
kuceritakan sebelum tidur.
Ternyata
hidup tidak tumbuh sesuai imajinasi.
Satu
tahun berlalu.
Dua
tahun.
Lima
tahun.
Lalu
angka-angka itu semakin panjang hingga aku berhenti menghitung.
Yang
justru rajin menghitung adalah orang lain.
"Sudah
berapa tahun menikah?"
"Belum
isi ya?"
"Sudah
periksa?"
"Jangan
terlalu sibuk kerja."
Aku
tahu mereka tidak sedang berniat jahat tetapi luka tidak selalu lahir dari niat
buruk. Kadang juga lahir dari kalimat yang terlalu sering kali diulang.
Ada
masa ketika aku mulai takut membuka media sosial. Bukan karena iri melainkan
karena aku lelah berdamai dengan diriku sendiri. Setiap kali melihat foto bayi
yang baru lahir, aku akan tersenyum, menuliskan ucapan selamat, lalu diam-diam
mematikan layar ponsel.
Aku
bertanya dengan rindu yang sama.
"Tuhan...
kapan giliranku?"
Tidak
ada jawaban. Hanya sunyi. Sunyi yang membuatku mulai mempertanyakan diriku
sendiri.
Apakah
aku kurang menjaga kesehatan?
Apakah
aku terlalu sibuk mengejar mimpi?
Apakah
aku belum pantas menjadi seorang ibu?
Pertanyaan-pertanyaan
itu perlahan berubah menjadi suara yang tinggal di kepalaku. Suara yang
membuatku merasa kecil. Suara yang membuatku membandingkan hidupku dengan
perempuan lain.
Aku
mulai melihat karierku bukan lagi sebagai anugerah melainkan pelarian. Seolah
semua buku yang kutulis tidak lagi berarti karena di rumah belum ada suara anak
yang memanggilku.
Aku
merasa bersalah setiap kali menerima prestasi.
Aneh,
bukan?
Padahal
tidak ada hubungan antara pencapaian dan rahim tetapi rasa tidak percaya diri
memang sering kali tidak masuk akal. Ia tumbuh dari ketakutan-ketakutan yang aku
biarkan hidup terlalu lama. Aku perempuan bicara rasa yang terlihat baik-baik
saja, padahal diam-diam sedang memunguti serpihan diriku sendiri.
Suatu
pagi aku mendongeng di sebuah sekolah dasar.
Anak-anak
duduk melingkar. Mereka tertawa ketika aku mengubah suaraku menjadi suara
singa. Mereka bertepuk tangan ketika cerita berakhir.
Saat
aku hendak pulang, seorang anak perempuan berlari menghampiriku.
Ia
memeluk pinggangku erat.
"Bu,
besok datang lagi ya."
Aku
terdiam.
Entah
mengapa mataku terasa panas.
Aku
mengusap rambutnya pelan.
"Iya,
kalau ada kesempatan Kak Fitri insyallah ke sini lagi."
Tapi
di perjalanan pulang, aku menangis.
Bukan
karena sedih.
Melainkan
karena untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu, kasih sayang ternyata tidak
menunggu status.
Aku
memang belum dipanggil "Ibu" oleh anak yang lahir dari rahimku namun
Tuhan masih memberiku kesempatan dipanggil "Bu" oleh begitu banyak
anak yang kutemui.
Bukankah
itu juga bentuk cinta?
Dan
di hari itu aku berhenti memusuhi tubuhku.
Tubuhku
ini sudah bekerja keras. Berulangkali menjalani pemeriksaan, menelan berbagai
butir vitamin, menyimpan banyak haarapan lalu belajar menerima kecewa setiap
bulan.
Kini
aku masih menunggu, masih berikhtiar, masih menyebut nama yang sama dalam setiap
doa setelah salat. Aku masih membayangkan suatu hari ada tangan kecil yang
menggenggam jemariku. Aku masih berharap namun aku tidak ingin lagi
menghabiskan hidup dengan merasa kurang. Aku ingin menikmati setiap halaman
yang sedang Tuhan tulis karena mungkin, kisahku memang tidak sama dengan
perempuan lain dan tidak apa-apa.
Aku
percaya, setiap perempuan memiliki musimnya sendiri. Ada yang dipertemukan
dengan doa-doanya lebih cepat, ada yang diminta menunggu lebih lama agar
hatinya bertumbuh lebih luas.
Aku
tidak tahu kapan penantian ini akan berakhir tetapi aku memilih tetap berjalan,
tetap menulis, tetap mendongeng, tetap bekerja di antara buku-buku yang selalu
mengajarkan bahwa akhir cerita sering kali datang ketika tokohnya hampir
menyerah.
Melalui
Perempuan Bicara Rasa, aku ingin memeluk setiap perempuan yang hari ini sedang
merasa tidak percaya diri. Yang diam-diam menangis di kamar mandi setelah
melihat satu garis pada test pack, yang tersenyum ketika orang lain mengumumkan
kehamilan, tetapi pulang membawa sesak yang tak mampu dijelaskan, yang mulai
kehilangan percaya diri karena dunia terlalu sibuk mengukur perempuan dari apa
yang belum dimilikinya.
Percayalah.
Rahimmu
bukan ukuran seluruh nilai hidupmu. Mungkin hari ini kita belum tahu kapan
semua doa itu dijawab namun aku percaya, Tuhan tidak pernah terlambat
mengirimkan Berita Baik.
Sampai
saat itu tiba, izinkan kita tetap bertumbuh,tetap berkarya, tetap mencintai diri
sendiri.
Sebab
pada akhirnya, Perempuan Bicara Rasa bukan hanya tentang menunggu dua garis, aku
telah belajar bahwa menjadi perempuan bukan hanya tentang apa yang berhasil
kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita tetap mencintai diri sendiri di
tengah penantian yang paling sunyi.




Post a Comment